Desa Lewotobi di Flotim Persiapkan Ekowisata

Editor: Makmun Hidayat

LARANTUKA — Desa Lewotobi, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT) mempersiapkan diri menjadi desa ekowisata dengan menjual paket wisata konservasi penyu dan keindahan alam bawah lautnya.

“Kami sedang mempersiapkan diri agar bisa membuat paket ekowisata setelah pandemi Covid-19 berakhir,” kata Tarsisius Buto Muda, Kepala Desa Lewotobi,  saat dihubungi, Minggu (5/9/2021).

Asis sapaannya menyebutkan, terumbu karang hasil transplantasi di tahun 2017 sudah bertumbuh dengan baik hingga mencapai 40 sentimeter dan sudah banyak ikan-ikan hias.

Pihaknya pun sudah menyiapkan 3 orang penyelam yang telah mendapatkan sertifikat menyelam sehingga diharapkan nantinya bisa mendampingi wisatawan yang akan snorkling maupun diving.

Kepala Desa Lewotobi, Tarsisius Buto Muda saat ditemui di desanya, Sabtu (28/8/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Sejak kami terapkan peraturan desa tahun 2017 lalu, sekarang ini tidak ada lagi sampah-sampah yang dibuang di jalanan dan di pesisir pantai.Kita sedang berbenah agar bisa menjual paket ekowisata,” ujarnya.

Asis menambahkan, pihaknya pun sedang melakukan penataan dan pembenahan tempat penetasan telur penyu yang dikelola Kelompok Pengawas Masyarakat.

Ia mengakui, memang belum banyak penyu yang datang bertelur di pesisir pantai di desanya karena minimnya pasir di wilayah pesisir pantai desa mereka.

“Desa kami juga memiliki objek wisata batu roti yang berada di pesisir pantai yang sudah terkenal. Dampak pandemi membuat kunjungan wisatawan lokal pun hampir tidak ada,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Yayasan Misool Baseftin Flores Timur, Maria Yosefa Ojan mengakui, pihaknya sejak tahun 2017 selalu mendampingi Desa Lewotobi terkait konservasi.

Evi sapaannya mengharapkan desa ini bisa menjual paket ekowisatanya karena sumber daya alamnya sudah bagus di mana karang yang ditransplantasi sudah tumbuh dengan baik.

“Sumber daya manusianya juga sudah tersedia karena ada anggota Pokmaswas yang bisa menyelam dan memiliki sertifikat. Desa mereka juga ada warganya yang bekerja sebagai pegawai kantor Dinas Pariwisata dan biasa membuat paket wisata,” ucapnya.

Evi menambahkan, Desa Lewotobi pun lingkungannya bersih hanya masih ada satu dua sampah plastik yang dibuang pengunjung di tepi pantai sehingga perlu dipikirkan pembuatan tempat sampah.

Lihat juga...