Dua Tahun Virus ASF Serang Ternak Babi di NTT

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Serangan virus African Swine Fever (ASF) terhadap ternak babi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah memasuki tahun kedua termasuk di Kabupaten Sikka yang menyebabkan hampir semua ternak babi milik masyarakat mengalami kematian.

 “Akhir tahun 2019 virus ASF masuk ke Pulau Timor lewat jalur darat dan masuk ke Kabupaten Sikka bulan Januari 2020,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Mauritz da Cunha saat ditemui di aula kantornya di Kota Maumere, Senin (20/9/2021).

Mauritz menyebutkan, hanya dalam waktu beberapa bulan saja praktis serangan sudah meluas hingga ke 21 wilayah kecamatan akibat adanya mobilisasi ternak yang dilakukan warga.

Ia mengatakan, puluhan bahkan ratusan miliar rupiah total kerugian yang dialami para peternak yang sebagian besar memelihara babi sebagai investasi.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Mauritz da Cunha (kiri) bersama Kepala BBPP Kupang, Bambang Haryanto yang ditemui di Kota Maumere, Senin (20/9/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dirinya menjelaskan, babi bukan sekadar ternak tetapi memiliki nilai sosial, ekonomi maupun budaya bagi warga Kabupaten Sikka.

“Hampir semua acara adat, pesta maupun kematian, babi menjadi ternak yang selalu dibutuhkan. Apabila ada anggota keluarga yang memiliki hajatan maupun kematian, maka menjadi keharusan bagi anggota keluarga dekat membawa babi sebagai hantaran,” ucapnya.

Mauritz menambahkan, warga memelihara babi juga sebagai investasi karena hewan ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan bisa dijual setiap saat bila ada kebutuhan mendesak yang butuh dana besar.

Dia menjelaskan, harga babi yang tergolong tinggi mencapai angka jutaan rupiah per ekornya membuat hampir setiap warga terutama di kampung selalu memiliki ternak babi.

“Serangan virus ASF menimbulkan kerugian yang besar bagi peternak sehingga dibutuhkan pengetahuan yang baik terkait langkah preventif terhadap serangan virus ASF. Juga langkah apa yang dilakukan ketika ternak sudah terserang virus ini,” ungkapnya.

Mauritz mengharapkan dengan adanya pelatihan bagi para peternak oleh Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kupang, bisa meningkatkan pengetahuan peternak.

Ia ingin agar peternak mengerti cara yang harus dilakukan agar bisa mencegah, mengendalikan serta mengatasi serangan virus atau hama penyakit pada ternak babi khususnya virus ASF.

Sementara itu, Tadeus Pega, salah seorang peternak babi skala besar menyebutkan, belasan tahun dirinya mulai merintis usaha peternakan ini dan baru mengalami kerugian besar saat adanya serangan virus ASF.

Tadeus mengakui, dirinya mengalami kerugian hampir Rp1,5 miliar akibat dari matinya 300 ekor lebih babi di peternakannya akibat serangan virus ini dan hanya bisa menyelamatkan beberapa ekor saja.

“Selain mengalami kerugian akibat matinya babi, saya pun harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membayar pekerja guna menguburkan babi-babi tersebut agar virusnya tidak menyebar,” ucapnya.

Lihat juga...