Dua Tradisi Kota Bekasi Diakui sebagai Warisan Tak Benda

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, telah menetapkan dua tradisi di Kota Bekasi sebagai warisan tak benda. Keduanya adalah tradisi ngarak barong dan babaritan, sebagai warisan adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan-perayaan. Saat ini tengah menuju penetapan tingkat nasional.

Tradisi ngarak barong dan babaritan di Kota Bekasi, ditetapkan sebagai warisan tak benda bersama 30 tradisi lainnya di wilayah Jawa Barat, sebagai warisan budaya tak benda tahun 2021, melalui surat keputusan kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan No 224/PK.04/Kebud.

“Alhamdulillah, tradisi ngarak barong Bekasi dan babaritan Kranggan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2021. Sekarang menuju penetapan tingkat nasional,” ungkap Aki Maja, budayan Bekasi yang mengajukan langsung tradisi ngarak barong, kepada Cendana News, Minggu (5/9/2021).

Dikatakan, pengajuan tradisi ngarak barong dan babaritan diinisiasinya sekitar tahun 2020 bersama pegiat tradisi budaya di Kranggan, Abah Suta yang mengajukan babaritan sebagai warisan tak benda ke tingkat Disparbud Provinsi Jabar. Prosesnya pun panjang, melalui sidang virtual terkait dua tradisi tersebut.

Aki Maja Budaya Bekasi, penggagas pengajuan ngarak barong, sebagai warisan tak benda ke Provinsi Jabar. Dia mengakui proses pengajuan cukup panjang, Minggu (5/9/2021). -Foto M. Amin

Dia berharap peran aktif Pemkot Bekasi bisa menggali tradisi lainnya di tingkat kelurahan dan kecamatan. Karena ada penawaran lagi dari Disparbud Jabar untuk mengajukan lagi tradisi atau budaya yang bisa diajukan.

Menurutnya, masih ada peluang untuk memajukan tradisi di daerah agar diakui di tingkat provinsi atau tingkat nasional sebagai bentuk pelestarian tradisi. Hal itu sebagai bentuk menjaga budaya agar tetap dikenal di masyarakat, tapi harusnya pemerintah yang menunjuk.

“Kami siap mementori jika ada kelurahan ataupun kecamatan yang ingin mengajukan tradisi di wilayahnya yang masih dipertahankan. Harusnya Disparbud merekomendasikan itu di setiap kelurahan kecamatan, bukan kami mencari-cari lagi,” jelas Aki Maja mengakui bahwa pengajuan dua tradisi di Kota Bekasi itu dilakukan personal melalui KOASI ke Disparbud Kota Bekasi.

Namun demikian jelasnya atas persetujuan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi ketika itu, melakukan reka cipta atas nama komunitas dan Kranggan atas nama masyarakat Kranggan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi M. Ridwan, dikonfirmasi terpisah membenarkan pengakuan dua budaya di wilayahnya sebagai warisan tak benda dari Disparbud Provinsi Jabar. Tentunya akan ada rencana aksi atas pengakuan itu.

“Kami tentunya akan merencanakan aksi, dengan mengajukan kepada Wali Kota Bekasi terlebih dulu atas pengakuan dua tradisi di Kota Bekasi ini. Saya akan membicarakan dengan pelaku budaya sebelumnya,” jelas Ridwan.

Lihat juga...