Ekspor CPO Kalbar Capai 490.083 Ton Selama Januari hingga Agustus

Editor: Makmun Hidayat

PONTIANAK — Realisasi volume ekspor minyak kelapa sawit mentah atau CPO dari Kalimantan Barat mencapai 490.083 ton selama Januari – Agustus 2021.

“Nilai ekspor CPO tersebut dari Januari – Agustus sudah sebesar 334,4 juta dolar AS,” ujar Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Barat M. Munsif saat webinar kebal pandemi sawit Kalbar masih diandalkan di Pontianak, Selasa (14/9/2021).

Menurutnya, Pelabuhan Kijing di Mempawah sebagai pintu ekspor Kalbar harus terus dimanfaatkan oleh perusahaan perkebunan karena sejauh ini baru sekitar 10 persen ekspor CPO dari pelabuhan berstandar internasional tersebut dari total produksi sawit di Kalbar.

“Meski masih sekitar 10 persen ekspor melalui Pelabuhan Kijing, namun nilai yang didapat Kalbar melalui bea keluar sudah mencapai Rp225 miliar dan pungutan ekspor Rp945 miliar atau total pajak ekspor bagi Kalbar Rp1,2 triliun. Untuk itu kami terus mendorong perusahaan memanfaatkan pelabuhan terbesar di Kalimantan tersebut,” katanya.

Berdasarkan catatan 2020 lalu, produksi CPO di Kalbar 4,9 juta ton dari luas tanam 1,9 juta hektare. Di tengah pandemi, COVID -19 menurutnya saat ini menjadi warna dan penyelamat ekonomi daerah dan nasional.

“Harga TBS,CPO dan PKO saat ini terutama di Agustus 2021 mencatat harga tertinggi. Untuk harga rata – rata untuk per kilogram CP Rp10.117,64, PKO Rp6.523,42 dan TBS Rp2.266,63,” jelas dia.

Di Kalbar pada triwulan II 2021 mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 10,81 persen (YOY). Pertumbuhan ekonomi tersebut tidak terlepas peran ekspor sawit yang semakin baik.

“Keunggulan sektor perkebunan dan industri kelapa sawit di Kalbar telah memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi terbesar ke-2 setelah tambang bauksit dan mampu menyerap tenaga kerja 787.364 orang,” kata dia.

Selanjutnya, sektor perkebunan dan industri kelapa sawit telah menjadi bahan baku beragam produk pangan, kesehatan, kosmetik dan biodisel. Kemudian mendukung program BBM B30 yang ramah lingkungan, menghemat devisa dan mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Hadirnya sawit juga telah membuka akses daerah terisolir dan menumbuhkan pusat ekonomi baru,” kata dia. (Ant)

Lihat juga...