Ekspor Perdana, Ubi Jalar Jabar Tembus Pasar Singapura

Editor: Makmun Hidayat

SUMEDANG — Ubi jalar asal Jawa Barat berhasil menembus pasar ekspor Singapura untuk pertama kali. Ubi jalar varietas rancing ini akan dikirim bertahap setiap bulan dengan total ekspor mencapai 8.037 ton setara USD6,6 juta.

“Hari ini ekspor 10 ton dengan total ekspor 55 ton di bulan ini dan itu baru ke Singapura saja,” ujar Wakil Gubernur Uu Ruzhanul Ulum saat mengawal ekspor perdana ubi jalar oleh PT Bona Vista Hikmah di Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, dalam keterangannya yang diterima Cendana News, Kamis (16/9/2021).

Dia mengaku bangga dengan pangan Jabar bisa mendunia. Menurutnya selama ini fokus Jabar saat pandemi adalah meningkatkan volume ekspor. Pada komoditas ubi jalar bagaimana meningkatkan pembibitan yang mengacu pasar ekspor.

Uu menjelaskan, produksi ubi jalar Jabar dalam setahun terakhir  mencapai 468.743 ton. Adapun jenis ubi jalar yang jadi unggulan adalah ubi cilembu, ubi jepang, ubi ungu, ubi putih, dan ubi manohara.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, saat mengantarkan ekspor perdana ubi jalar ke Singapura oleh PT Bona Vista Hikmah di Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Kamis (16/9/2021). -FOto: M. Amin/HO-Adpim Jabar

Jabar sendiri memiliki cukup daerah sentra ubi jalar yakni Kabupaten Garut, Kuningan, Bogor, Bandung, Tasikmalaya, Sukabumi, dan Kabupaten Sumedang dengan ‘hui cilembu’ sebagai ikon.

Di Sumedang selain varietas rancing juga ada varietas nirkum dengan luas tanam per tahun sekitar 460 hektare. Rata-rata produktivitas 17 ton per hektare dan total produksi 7.820 ton per tahun. Sentra ubi di Sumedang terutama ada di Kecamatan Pamulihan, Tanjungsari, Rancakalong, dan Kecamatan Sukasari.

Ia berharap mendatang bukan umbinya saja yang diekspor tapi pangan berbasis ubi jalar lebih berkembang lagi. Terbukti sudah ada permintaan 2.393 ton ubi jalar senilai USD3,3 juta, tepung ubi jalar, tepung kasar, dan bubuk ubi jalar sebanyak 507,8 ton senilai USD166.499.

“Koperasi menjadi mesin kesejahteraan petani dengan manajemen pemasaran yang bagus.  Cara – cara tradisional seiring kemajuan teknologi pertanian lambat laun harus diubah menjadi pertanian 4.0 misalnya menggunakan aplikasi sehingga produktivitas meningkat,” harapnya.

Menurut Uu, Pemda Provinsi Jabar mendukung dan mendorong inovasi dan penguatan pertanian dari hulu ke hilir. Di tengah pandemi COVID-19 saat sektor lain menurun, pertanian justru meningkat dan menjadi penyelamat.

Selain ke Singapura, ubi jalar Jabar juga sudah diekspor ke Hongkong. Pada September 2020, Gubernur Ridwan Kamil melepas 30 ton ubi jalar asal Kabupaten Bandung.

Lihat juga...