Gado-gado Khas Betawi Cocok bagi Vegetarian

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA –  Kuliner khas Betawi ini menjadi makanan sehat yang sangat digemari karena sajian paduan varian sayuran yang direbus berbalur bumbu kacang. Saat disantap terasa gurih dan nikmat melekat di lidah hingga ketagihan.

Yuliana, pedagang gado-gado mengaku sudah tahunan berjualan kuliner khas Betawi ini meneruskan usaha orang tuanya.

Yuliana sedang membuat pesanan gado-gado khas Betawi di warungnya di Jalan Haji Hasan, Kelurahan Kampung Baru, Jakarta Timur, Sabtu (18/9/2021). Foto: Sri Sugiarti

“Saya ini asli orang Betawi, kelahiran Kampung Baru. Jualan gado-gado ini nerusin usaha ibu saya, ya selain untuk mencukupi ekonomi keluarga juga utamanya untuk melestarikan makanan khas Betawi,” ujar Yuliana, kepada Cendana News ditemui di warungnya di Jalan Haji Hasan, Kelurahan Kampung Baru, Jakarta Timur, Sabtu (18/9/2021).

Hingga saat ini jelas dia, gado-gado sangat identik sebagai kuliner khas Betawi yang sudah ada sejak tahun 1950, dan digemari masyarakat Betawi.

“Gado-gado ini makanan populer masyarakat Betawi yang masih melegenda sampai sekarang. Rasanya gurih dan menyehatkan karena memiliki kandungan gizi dari ragam sayurannya,” ujar Yuliana.

Kuliner khas Betawi ini menurutnya, menjadi makanan sehat yang digemari orang yang menjalankan pola hidup vegetarian. Karena makanan ini mengandung gizi dari aneka sayuran, seperti tauge, kangkung, kacang panjang, kol, labu siam, dan timun.

Baluran bumbu kacang tanahnya juga mengandung protein yang bermanfaat untuk menurunkan kolesterol jahat yang ada di dalam tubuh. Sehingga bagus untuk kesehatan dan dapat menurunkan risiko jantung.

“Sayuran hijaunya juga berfungsi sebagai antioksidan, sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Salah satunya mencegah penuaan dini,” jelasnya.

Begitu pula tambah dia, dengan potongan dadu tahu dan tempe goreng yang dicampur dalam sajian kuliner ini, juga memiliki kandungan protein yang tinggi.

“Gado-gado sering disamakan dengan lotek atau pecel. Ya karena semua makanan tersebut sama-sama menggunakan sayuran yang dibalur bumbu kacang. Tapi soal rasa pasti bedalah,” imbuhnya.

Asal mula nama gado-gado dikatakan dia berasal dari kata digado yang dalam bahasa Betawi, itu bermakna kuliner ini langsung disantap tanpa nasi putih. Kebanyakan disajikan dengan lontong yang berbaur sayuran rebus dan bumbu kacang kental.

“Gado-gado khas Betawi ini disajikan dengan dengan bumbu kacang tanah, ragam sayuran rebus, lontong dan kerupuk. Tapi ada juga yang beli cuma sayuran tanpa lontong,” tandas perempuan kelahiran Jakarta 49 tahun lalu ini.

Pengolahan gado-gado ini terbilang mudah. Pertama, kata Yuliana, siapkan sayur-sayuran sebagai bahan utama, lalu cuci dan rebus hingga matang. Kemudian angkat dan tiriskan di dalam wadah.

Selanjutnya, siapkan kacang tanah goreng, cabai merah, cabai rawit, garam, gula merah, terasi dan garam. Lalu ulek hingga halus, beri sedikit air asam Jawa, ulek kembali hingga rata, dan lalu tes rasa.

Kemudian masukkan ragam sayuran rebus, potongan tahu dan tempe goreng, lalu aduk rata dan siap disajikan untuk disantap.

“Bikin gado-gado khas Betawi ini mudah, bisa dicoba di rumah juga. Tapi ya beda tangan, pasti beda rasanya, kalau saya kan memang ini gado-gado resep warisan dari ibu saya,” ujar Yuliana.

Ardila Fitri (28) mengaku kuliner khas Betawi ini menjadi makanan kegemaranya. Apalagi ia merupakan seorang vegetarian, tentu menu sayuran sehat menjadi andalan untuk disantap setiap hari.

“Variasi sayur rebus dengan siraman bumbu kacang bikin ketagihan, gurih. Bagi saya makanan ini cocok ya, karena kandungan gizinya bagus. Harganya juga murah seporsi cuma Rp 15.000,” ujar Ardila.

Dia mengaku kerap meluangkan waktu untuk mencicipi kuliner nusantara yang cocok bagi orang vegetarian, seperti dirinya.

“Suatu kali coba beli gado-gado di sini cocok di lidah saya, jadi keterusan beli di sini ya. Bumbu kacangnya itu yang bikin nendang,” ujarnya.

Lihat juga...