Gerak Semu Matahari Sebabkan Anomali Cuaca di Jateng

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang, Iis Widya Harmoko, saat dihubungi di Semarang, Rabu (22/9/2021). Foto Arixc Ardana

SEMARANG — Cuaca ekstrim melanda sejumlah wilayah di Jateng, termasuk di Kota Semarang. Suhu pada siang hari bisa mencapai 35-37 derajat celcius, sementara pada sore terjadi hujan deras disertai angin kencang.

“Cuaca di Kota Semarang sekarang tidak bisa diprediksi, kalau siang panas terik, sementara sore hari hujan deras. Padahal sekarang ini kan sudah masuk musim kemarau, namun hujan masih sering terjadi, terutama dalam dua minggu terakhir ini,” papar Jayadi, warga Tembalang Semarang, saat ditemui, Rabu (22/9/2021).

Kondisi tersebut cukup berimbas pada aktivitas masyarakat, termasuk dirinya yang bekerja sebagai pedagang keliling.

“Kalau siang panasnya luar biasa. Contohnya, kalau saya pas berhenti di lampu traffic light, nunggu lampu hijau itu terasa lama, sebab panas sinar matahari sampai tembus pakaian,” terangnya.

Terpisah, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang, Iis Widya Harmoko memaparkan, kondisi anomali cuaca di Jateng, termasuk di Kota Semarang akan terjadi hingga Oktober 2021 mendatang.

“Perubahan cuaca yang cukup ekstrim ini disebabkan adanya gerak semu matahari menuju ke arah selatan atau mendekati garis khatulistiwa. Akibatnya, cuaca menjadi cukup panas, dengan angka tertinggi mencapai 37 derajat celcius,” terangnya.

Dipaparkan, suhu panas ini akan terus terjadi hingga Oktober 2021 mendatang, kemudian menurun dan kembali naik pada bulan Februari 2022.

“Suhu terpanas akan terjadi saat lintasan matahari tepat berada di atas Jawa Tengah. Per tanggal 23 September 2021 ini,, posisi matahari sudah berada tepat di atas garis khatulistiwa. Jadi kemungkinan suhu udara akan semakin panas pada Oktober 2021 nanti,” tambahnya.

Pihaknya pun mengimbau masyarakat, terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan, untuk membekali diri dengan minuman sebagai pengganti cairan tubuh.

“Cuaca panas terik, tentu berdampak juga bagi kesehatan. Jaga cairan tubuh agar tidak hilang dan terjadi dehidrasi, siapkan bekal minuman jika memang diperlukan,” tambahnya.

Di sisi lain, cuaca panas dengan suhu tinggi juga berpotensi terhadap bencana kebakaran. Terutama semak belukar, untuk itu masyarakat juga diminta untuk waspada.

“Cuaca panas tinggi ini, perlu kita waspadai. Jika melihat dari pengalaman sebelumnya, juga bisa menyebabkan kebakaran. Terutama semak belukar, karena sudah kering, kemudian terkena suhu panas tinggi, jadi terbakar,” papar Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang Winarsono, saat dihubungi, Rabu (22/9/2021).

Termasuk juga waspada bencana kekeringan, meski hingga saat ini, pihaknya belum mendapat laporan terkait kekeringan di Kota Semarang.

“Mari kita tingkatkan kewaspadaan sersama, dalam menghadapi cuaca panas ini. Mudah-mudahan, dengan cara ini, bencana bisa kita cegah sejak dini,” pungkasnya.

Lihat juga...