Indonesia Masih Impor 700 Ribu Sapi

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Dosen Luar Biasa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Muhammad Winugroho menegaskan, Indonesia sampai saat ini masih impor 700 ribu sapi dari luar negeri. Padahal Indonesia mempunyai peluang besar dalam mengembangkan peternakan sapi, meskipun belum maksimal. 

“Kita ini sampai sekarang masih impor 700 ribu sapi dari negara lain. Padahal kita punya makanan sapi dan bisa mendatangkannya. Ini potensi besar untuk kita mengembangkan peternakan sapi,” ujar Prof Winugroho, pada diskusi virtual tentang Peternakan Rakyat yang diikuti Cendana News di Jakarta, Senin (27/9/2021).

Disampaikan dia, di Provinsi Kalimantan Selatan, di mana potensi desa emas sapi sekitar kilang sawit itu memiliki limbah surit 300 metrik ton. Kapasitas limbah ini dapat memberikan makanan untuk 15 ribu ekor sapi BX (Brahman Cross) dari Australia yang bobotnya mencapai 400 kilogram dan 20.000 ekor sapi Bali atau Madura.

Namun demikian menurutnya, permasalahan peternakan sapi di Indonesia adalah ratusan ribu sapi betina dipotong. “Bahkan 90 persen sapi Bali yang dipotong itu adalah sapi betina,” tukasnya.

Prof. Dr. Ir. Muhammad Winugroho, pada diskusi virtual tentang Peternakan Rakyat yang diikuti Cendana News di Jakarta, Senin (27/9/2021). -Foto: Sri Sugiarti

Maka itu, dia menyarankan solusinya dengan kepemilikan (ownership) atau pindah sapi betina ke sumber pakan. Yakni jelasnya lagi, sapi betina produktif yang akan dipotong dibeli dari sumber atau kantor ternak dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Bali.

“Sapi betina dipindahkan ke daerah potensial sumber makanan sapi untuk bisa beranak pinak. Sapi lokal bisa sampai 12 kali beranak, sementara sapi luar satu dua kali saja kadang suka sulit. Nah, sapi betina yang mau dipotong kita beli dari kantong ternak,” ujarnya.

Prof.  Winugroho berharap peternakan rakyat yaitu hewan sapi ini dapat terus dikembangkan di Indonesia dengan sinergitas.

Dalam hal ini Prof. Winugroho berharap dengan pemanfaatan koperasi umat  berbasis komunitas yang merupakan binaan Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (KPEU MUI) dapat berperan untuk mewujudkan swasembada pangan di Indonesia.

“Untuk wujudkan Indonesia jadi lumbung pangan pada 2045, diperlukan sinergitas antara komunitas peternak sapi dan industri dalam hal ini koperasi demi umat,” tandasnya.

Karena menurutnya, melalui koperasi tersebut akan  efektif untuk mencapai visi bersama, terutama dalam mengembangkan potensi ekonomi rakyat.

Jika Indonesia tidak bergerak dalam upaya peningkatan peternakan rakyat, maka menurutnya, negara ini akan terus mengimpor sapi.

“Karena kalah produksi dengan negara lain, kita tidak bergerak, ya dampaknya kita terus impor sapi. Saat ini, sapi Bali tinggal 400 ribu. Negara tetangga, Malaysia contohnya punya 2 juta sapi Bali. Ya, lama-lama kita bakal impor dari negeri Jiran itu,” tukasnya.

Ketua KPEU MUI, KH.Nuruzzaman menambahkan, pihaknya akan terus berupaya membangkitkan ekonomi rakyat atau umat untuk mengurangi kesenjangan dengan melakukan retribusi aset.

Dalam hal ini yakni menurutnya, upaya yang dilakukan pengembangan kawasan industri halal Usaha Mikro Kecil Menengah 0.5.

“Bagaimana dari hulu hingga hilir bisa dikelola koperasi umat dalam kawasan industri halal 0.5. Itu harus bergerak, baik  peternakan, pertanian, perikanan dan perkebunan. Sehingga kita dapat wujudkan Indonesia jadi lumbung pangan,” pungkasnya.

Lihat juga...