Indonesia Matangkan Persiapan Presidensi G20 Secara ‘Hibrid’

Editor: Makmun Hidayat

BANDUNG — Sebagai tuan rumah, Indonesia mulai kembali mematangkan berbagai persiapan menyambut perhelatan akbar Presidensi Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada tahun mendatang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan, pertemuan Presidensi G20 akan berlangsung secara hibrid, dengan kata lain ada yang digelar secara langsung dan ada pula yang secara daring (dalam jaringan).

“Sebagaimana instruksi Presiden, pertemuan akan dilakukan secara hibrid dengan mempertimbangkan kondisi pengendalian Covid di Tanah Air,” ujar Airlangga dalam Konferensi Pers Menuju Presidensi G-20 Indonesia Tahun 2022 virtual, yang diikuti Cendana News dari Bandung, Selasa (14/9/2021).

Menurut Airlangga, pemerintah akan memastikan pertemuan mengikuti parameter kesehatan serta menerapkan mekanisme dan protokol kesehatan sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan sesuai persyaratan vaksinasi dengan ketersediaan rumah sakit klasifikasi A.

“Rangkaian pertemuan akan terdiri dari berbagai kelompok kerja (working group), termasuk pertemuan tingkat menteri keuangan, dan dihadiri pula seluruh kepala negara dan kepala pemerintahan. KTT G20 pun dihadiri dengan jumlah delegasi 500 hingga 5.800 untuk setiap acara sepanjang tahun,” ungkap Airlangga.

G20 sendiri merupakan forum ekonomi global yang dibentuk sebagai respons atas krisis ekonomi pada 1997-1998 dan beranggotakan 20 negara. Hal ini terdiri dari, 19 negara utama penggerak ekonomi dunia, termasuk Indonesia, dan satu perwakilan regional Uni Eropa yang memiliki produk Domestik Bruto (PDB) terbesar dunia.

“Kelompok G20 ini berkontribusi terhadap 85 persen perekonomian dunia. 75 persen perdagangan internasional, dan 80 persen investasi global, dengan 2/3 penduduk dunia. Mandatnya menciptakan pertumbuhan ekonomi global yang kuat, berkelanjutan, seimbang dan inklusif,” tukas Airlangga.

Di forum yang sama, Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyebut, bahwa Presidensi G20 mendatang mengusung tema utama ‘Recover Together, Recover Stronger’, dengan lima pilar prioritas.

“Kelima pilar yang dimaksud yaitu peningkatan produktivitas untuk pemulihan, membangun ekonomi dunia yang tangguh pascapandemi, dan menjamin pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Menkeu.

Selain itu, menciptakan lingkungan yang kondisif dan membangun kemitraan dengan pemangku kepentingan, serta kepemimpinan kolektivitas global untuk memperkuat solidaritas, menjadi pilar pelengkapnya.

“Sebagai tuan rumah, kita berharap nantinya bisa memaksimalkan momentum tersebut untuk menjadi motor penggerak pemulihan ekonomi dunia akibat pandemi Covid-19, termasuk juga Indonesia sendiri,” pungkas Menkeu.

Lihat juga...