Irigasi Dibangun Masa Soeharto di Lamsel Masih Digunakan Petani

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sejumlah peninggalan era Presiden Soeharto dibangun pada tahun 1975 hingga 1980 masih digunakan petani Lampung Selatan.

Irigasi pertanian di wilayah Kecamatan Palas yang kini menjadi wilayah Kecamatan Sragi menjadi bagian dari program ketahanan pangan era Presiden Soeharto. Jejak irigasi bendungan Way Asahan 1 dan Way Asahan 2 bertahan untuk pertanian berkelanjutan.

Sebagian saluran irigasi tersebut memanfaatkan aliran dari Gunung Rajabasa. Sutrisno, salah satu petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut kunci pertanian berkelanjutan ada pada jaringan irigasi. Melalui bantuan dari Kementerian Pertanian dan kerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum daerah irigasi (DI) terkoneksi. Bendungan sebagai irigasi primer disalurkan melalui siring sekunder hingga tersier.

Berada jauh dari jaringan irigasi sebut Sutrisno tidak lantas membuat ia kekurangan air. Pembuatan sarana irigasi melalui usulan sejumlah petani melalui kelompok tani (Poktan) membuat aliran air lancar. Sebagian sungai kecil dimanfaatkan secara bergilir oleh petani menyesuaikan kebutuhan. Air irigasi digunakan petani padi, sayuran, buah melon dan cabai. Penggunaan air dibagi merata menyesuaikan usia dan kebutuhan tanaman.

“Sistem pembagian air dilakukan dengan kombinasi irigasi permanen bendungan, siring permanen dan alami dari sumber Sungai Way Muloh, Sungai Way Asahan terbagi dalam daerah irigasi yang dikelola oleh petani dan diawasi oleh Dinas PU sehingga pembagian air merata untuk kebutuhan pertanian yang bisa menanam padi setahun minimal dua kali,” terang Sutrisno saat ditemui Cendana News, Senin (27/9/2021).

Sutrisno, salah satu petani di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan memanfaatkan aliran irigasi permanen, Senin (27/9/2021). -Foto Henk Widi

Sutrisno bilang petani menjaga saluran irigasi tersier dengan sistem gotong royong. Perawatan dilakukan terutama saat musim penghujan dengan penambahan volume sampah plastik, sampah kayu. Penambahan volume sampah sebutnya berpotensi merusak saluran irigasi. Perbaikan pada saluran rusak kerap dilakukan dengan patungan cegah kebocoran. Sebagian saluran irigasi yang rusak diperbaiki untuk dimanfaatkan berkelanjutan.

Lancarnya saluran irigasi sebut Sutrisno mutlak menopang upaya petani melakukan swasembada. Meski demikian kendala dihadapi petani dengan munculnya organisme pengganggu tanaman (OPT). Jenis OPT yang muncul masih dalam tahap kewajaran populasi. Pengendalian hama terpadu dilakukan dengan memakai bahan sintetis dan organik. Jenis OPT yang muncul meliputi ulat daun, wereng, tikus dan kupu kupu klaper.

“Sarana irigasi selama puluhan tahun tidak ada kendala hanya saja dilakukan peningkatan irigasi alami menjadi permanen,” ulasnya.

Pasokan air lancar bersumber dari Gunung Rajabasa dan sendang atau sumber air diamini Subikan. Petani tersebut memanfaatkan bidang lahan yang sebagian digusur untuk pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Irigasi yang lancar sebutnya dimanfaatkan untuk budidaya padi varietas Ciherang. Pada bagian bawah ia memanfaatkan bidang lahan untuk menanam kacang hijau. Bagian lain ditanami jagung hibrida.

Pemanfaatan lahan dengan kepastian irigasi yang lancar sebut Subikan berpotensi menopang swasembada pangan. Tanaman jagung, gabah dan kacang hijau serta kedelai bisa menghasilkan kebutuhan pokok untuk keluarga. Mendekati masa panen padi, air pada saluran irigasi sebutnya bisa dialihkan untuk tanaman palawija. Berada di bagian ujung saluran irigasi membuatnya kerap hanya bisa menanam padi dua kali setahun.

“Tahap ketiga saat musim kemarau kerap tidak kebagian air sehingga hanya bisa menanam jagung bahkan sebagian tidak ditanami,” ulasnya.

Pasokan air lancar dukung swasembada gabah untuk stok diakui oleh Sumardi. Pemilik lahan sawah dengan sistem menumpang itu mengaku menggarap pada lahan milik tetangganya. Berada di saluran air dekat tulakan atau pertemuan saluran irigasi membuat ia tidak pernah kekurangan air. Irigasi lancar sebutnya masih memberi keuntungan dengan bisa membagi hasil panen untuk pemilik lahan.

Sistem bagi hasil diakuinya tetap bisa menjadi cara menjaga stok gabah kering giling (GKG). Mendapat hasil sekitar 4 ton ia menyebut bagian sebanyak 1 ton diberikan bagi pemilik, 2 ton untuk penggarap dan 1 ton untuk pupuk, obat dan biaya operasional. Lancarnya irigasi sebutnya memberi kesempatan bagi petani untuk mendukung swasembada gabah. Hasil panen disimpan sebagai cadangan hingga musim tanam berikutnya.

Lihat juga...