Jaga Ekosistem Air dan Pohon, Kunci Pelestarian Alam

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Hidup berdampingan dengan alam di kaki Gunung Betung berlangsung sejak ratusan tahun silam. Sejak zaman Belanda, kawasan di kaki Gunung Betung sebagai penyangga Register 19 Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman (WAR) menjadi sumber air, penjaga pohon.

Saminem, warga Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran menyebut hidup berdampingan dengan hutan.

Saminem bilang lahan pertanian warga berdampingan dengan hutan desa dan Tahura WAR atau register 19. Sosialiasi oleh Dinas Kehutanan dan pemangku kepentingan sebutnya jadi cara menjaga pohon.

Pemanfaatan lahan untuk menanam pohon sebutnya menjadi cara agar menjadi peresap air. Menjaga air sekaligus sumber kehidupan, menjaga lahan pertanian.

Memiliki lokasi di sekitar hutan desa yang dikenal dengan pemandian pekon zaman Belanda sebut Saminem membuat ia tidak kekurangan air.

Keberadaan pohon sebutnya menjaga siklus air dengan pelarangan menebang, memanfaatkan untuk bangunan.

Pemanfaatan berkelanjutan sebutnya dilakukan dengan menjadikan pohon nangka, petai untuk rambatan lada, cabai jamu, vanili dan tumbuhan merambat.

“Sebagai warga generasi ketiga saya ikut menjaga pohon agar bisa menyerap air sehingga pasokan mata air bisa berlangsung terus menerus. Bahkan kala musim kemarau masih bisa mendapatkan sumber air untuk mandi, minum dan sumber pertanian,” terang Saminem saat ditemui Cendana News, Rabu (1/9/2021).

Tanpa merusak pohon sebagian jenis palem, aren, medang, bayur hingga pule memberi sumber pasokan air. Pada pemandian pekon zaman Belanda sumber air dibuat menjadi bak ukuran besar.

Selanjutnya air pada bak tersebut disalurkan melalui sejumlah pipa, selang ke permukiman warga. Keberlangsungan air sekaligus jadi sumber pelestarian alam melalui penanaman pohon.

Warga lain bernama Basiyam di Dusun 4 mengaku, pemanfaatan pohon dilakukan secara turun temurun. Warga sebutnya tidak pernah melakukan penebangan pohon kecuali sudah tua dan roboh oleh faktor usia.

Jenis pohon yang dimanfaatkan berupa leresede dan pohon medang sebutnya menjadi rambatan tanaman lain. Selain mempertahankan pohon untuk rambatan, tanpa menebang ia masih bisa mendapat hasil ekonomi berupa lada.

“Pemanfaatan pohon berkelanjutan jadi cara untuk menjaga air sehingga kami tidak pernah kekurangan air,” ulasnya.

Sejumlah pohon yang menjadi sumber mata air sebutnya sengaja dipertahankan pada aliran sungai. Sejumlah sungai kecil sebutnya dimanfaatkan warga untuk pemanfaatan berkelanjutan. Setiap pohon sebutnya ditanam untuk menjaga longsor, sebagian menjadi sumber mata air.

Hasilnya warga memiliki belik tanpa menggali sumur, memiliki kolam ikan bahkan kolam renang dari air yang mengalir sepanjang waktu.

Kesadaran menjaga lingkungan berkelanjutan diakui Ego Kurnianto. Warga di Desa Sungai Langka itu mengaku sosialisasi dari pemangku kepentingan jadi kunci menjaga siklus air.

Keberlangsungan air Gunung Betung di Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedong Tataan, Pesawaran dimanfaatkan Ego Kurnianto untuk budi daya salak pondoh dan menjaga kelestarian air dengan penanaman pohon, Rabu (1/9/2021) – Foto: Henk Widi

Siklus air bisa dipertahankan dengan tetap menjaga pohon tanpa melakukan penebangan. Saat pohon ditebang oleh faktor usia, peremajaan dengan bibit tanaman baru dilakukan. Peremajaan dilakukan dengan tanaman multi purpose tree species (MPTS).

“Agar tidak merusak kawasan penyangga pohon yang ditebang harus diganti dengan tanaman produktif mencegah longsor,” ulasnya.

Vegetasi tanaman produktif sebut Ego Kurnianto ikut menjaga siklus air. Semua jenis tanaman produktif dibudidayakannya mencegah longsor.

Jenis tanaman petai, jengkol, salak pondoh, alpukat hingga pala ditanam olehnya. Berbagai jenis tanaman produktif menjaga erosi tanah dan menghasilkan buah secara ekonomis berkelanjutan.

Lihat juga...