Jakarta Berperan Besar Kurangi Emisi di Indonesia

Editor: Koko Triarko

Direktur World Resources Institut (WRI) Indonesia, Tjokorda Nirarta Samadhi, pada diskusi virtual tentang hutan lestari yang diikuti Cendana News di Jakarta, Senin (12/4/2021). –Dok: CDN

JAKARTA – Perkotaan dengan energi efisiensi pembangunan diyakini dapat mengurangi emisi rumah kaca sampai 96 persen. Dan, Jakarta menjadi penting dalam percaturan pengurangan emisi di Indonesia. 

Direktur World Resources Institut (WRI) Indonesia, Tjokorda Nirarta Samadhi, mengatakan konstribusi dari kota dalam pengurangan emisi menuju net zero emission 2050. Yakni seperti yang diusulkan  Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam dialog tentang perubahan iklim dunia.

“Pak Anies mengusulkan agar usaha yang dilakukan kota di dalam mengurangi emisi masuk dalam NDC (Nationally Determined Contribution). Ini artinya menunjukkan peran dari kota itu makin besar di dalam mengurangi emisi di suatu negara,” ujar Nirarta, kepada Cendana News saat dihubungi, Rabu (29/9/2021).

Menurutnya, Indonesia wilayah perkotaannya berkembang secara pesat. Tahun 2018 ada 55 persen masyarakat Indonesia yang  tinggal di perkotaan dan pada 2050 angkanya akan menjadi sekitar 73 persen. Sedangkan seperempat dari 73 persen pada 2050 itu dikontribusikan oleh Jakarta.

“Jakarta menjadi penting dalam percaturan pengurangan emisi di Indonesia, apa yang dilakukan oleh perkotaan,” imbuhnya.

Data pollution of urban transformation mencatatkan tindakan ekonomi pembangunan yang berbasis ekonomi rendah karbon nantinya akan bisa menyumbangkan sekitar 2,3 juta pekerja pada 2030 menuju rendah karbon.

Ini artinya, kata Nirarta, ada 50 persen dari emisi gas rumah kaca perkotaan yang bisa dikurangi sekitar 253 metrik ton. Dan, tahun 2050 ada tambahan pengurangan emisi sampai 96 persen dengan tambahan sekitar 876.000 pekerja.

“Jadi, secara ekonomi pergeseran ekonomi perkotaan menuju yang hijau itu menambah jumlah pekerja secara signifikan. Dan, pada saat yang bersamaan mengurangi emisi juga secara signifikan. Khusus untuk perkotaan hingga 96 persen,” urainya.

Untuk mewujudkan itu, dibutuhkan investasi secara kumulatif sampai dengan 2050 akan dibutuhkan sekitar 1 triliun dolar AS yang akan menghasilkan keuntungan sebesar 2,7 trilun dolar AS.

“Jadi, kita bisa lihat betapa besarnya keuntungan yang diperoleh dari investasi hijau di perkotaan,” imbuhnya.

Adapun pengurangan biaya yang bisa dihemat dari sektor mana saja yang besar pengaruhnya di perkotaan, itu teryata pada bangunan. Energi efisiensi pada bangunan itu menyumbang sekitar 69 persen dari pengurangan emisi yang bisa dilakukan oleh perkotaan. Transportasi menyumbang sekitar 14 persen.

“Energi efisiensi itu menjadi salah satu strategi kunci di dalam  mencapai net zero emission pada 2045 atau 2050,” tukasnya.

Pada sisi lain, tantangannya bukan pada tehnik dan kalkulasi, tapi lebih kepada pelaksanaan dari rencana tersebut. Saat ini, tantangannya bagaimana membuat krisis iklim ini menjadi sesuatu yang bersifat personal.

“Sama personalnya dengan misalnya banjir, macet atau kualitas udara yang buruk,” ujarnya.

Apalagi, menurutnya saat ini ambang krisis tersebut relatif tidak bisa dilihat dan terasa secara tidak langsung. Namun, saat ini mulai ada persetujuan yang berkembang terkait krisis di perkotaan.  “Terutama kota besar dan dalam hal ini Jakarta,” pungkasnya.

Lihat juga...