Jihad Pemikiran

OLEH: HASANUDDIN

PERHATIKANLAH kembali apa maksud firman Allah swt, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al-Qadr: 3). Bukankah ayat ini semakna dengan ungkapan Nabi Sallallahu Alaihi Wassalam? bahwa tafakkur sejenak sama dengan ibadahnya orang-orang yang tekun beribadah?

Sungguh hati yang tertutup itu benar-benar gelap gulita, membutuhkan pencerahan Ilahi agar membuka jendela-jendelanya supaya cahaya dapat memasukinya.

Berkata Jalaluddin Rumi, ketika dalam diri manusia muncul kesadaran dari kesesatan, maka itulah yang disebut keutamaan dan anugerah murni dari Allah swt. Keutamaan itu laksana percikan api, yang menimbulkan cahaya di dalam hati, menyentak lubuk hati yang terdalam dari orang yang bergelimang dalam kesesatan.

Cahaya itu ibarat tentara Allah yang diturunkan membebaskan hati yang terkepung oleh bala tentara setan, yang menyelubunginya sehingga tidak mampu menangkap pancaran sinar Ilahi.

Jangan berputus asa atas dosa-dosa yang pernah kalian lakukan. Kembalilah kepada-Nya, mohonlah bimbingan-Nya.

Bukankah Allah berfirman: “Dan kepunyaan Allah tentara langit dan bumi” (Surah Al-Fath: 4). Lalu siapakah yang mampu melawan tentara Allah? Jika Dia berkehendak membebaskan hati seorang manusia yang sedang ditawan oleh Iblis?

اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ فَهُوَ عَلٰى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهٖۗ فَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Afa man syaraḥallāhu ṣadrahū lil-islāmi fa huwa ‘alā nūrim mir rabbih, fa wailul lil-qāsiyati qulūbuhum min żikrillāh, ulā’ika fī ḍalālim mubīn

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S Az-Zumar [39] : 22).

Lalu darimana datangnya cahaya atau “bala tentara langit” Allah itu ? Bala tentara Allah itu, keluar dari hati orang-orang yang beriman, berupa nasihat dan perkataan-perkataan yang baik. Perkataan-perkataan baik yang keluar dari orang-orang yang beriman itu laksana anak-anak panah yang melesat dari busur-busur bala tentara Allah yang akan menghujam masuk ke dalam dada mereka yang sedang tersesat.

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam:4).

Para tentara Allah senantiasa berusaha menjadikan Rasulullah saw sebagai teladan mereka dalam berucap, berperilaku, dan mengambil pelajaran dari setiap akhlak terpuji beliau.

Karena itu, di tengah kegelapan yang menyelimuti, raihlah secercah cahaya melalui perkataan-perkataan Nabiullah, yang bersemayam di hati orang-orang saleh. Datangilah mereka lalu amalkanlah semampunya apa yang mereka nasihatkan, agar cahaya itu menjadi bertambah besar, dan terus membesar hingga mampu menyinari bukan hanya untuk diri kamu sendiri, namun juga menyinari lingkungan di manapun kamu berada, termasuk menerangi hati mereka yang sedang dalam kegelapan.

Berjihadlah dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya dengan mulai dari amalan yang kecil tapi kontinu. Misalnya berusahalah untuk berkata jujur. Satu itu saja dulu. Latihlah lidah untuk berkata jujur, mengucapkan kalimat yang benar, tidak dusta.

Lakukanlah dengan sungguh-sungguh, karena lihatlah, betapa banyak orang yang tidak mampu melalui jalan kejujuran itu.

Perhatikanlah para pembesar negeri, yang paling tinggi pangkat dan jabatannya pun selalu berkata dusta. Lihatlah betapa jauhnya dari ajaran Rasulullah. Maka palingkanlah pengharapanmu dari orang-orang sejenis itu. Sungguh itu adalah bagian dari jihadmu untuk membesarkan cahaya hatimu.

Bergaullah dengan orang-orang saleh, orang berilmu yang mengamalkan ilmunya, karena mereka yang tidak mengamalkan ilmunya itu pastilah tidak percaya terhadap ilmu yang dimilikinya, maka jauhilah. Jangan belajar kepada mereka yang tidak mengamalkan ilmunya. Bukankah mereka sendiri tidak percaya terhadap ilmunya?

Jihadlah dalam tafakkurmu; Mulailah dengan jujur; Teruslah dengan sabar; Lakukanlah dengan ikhlas lillahi taala; Lalu zuhud-lah, dan raihlah tawadhu, untuk memperoleh syukur.

Maka dengan syukurmu atas nikmat Allah itulah, Engkau akan memperoleh limpahan cahaya-Nya, bukan lagi melalui perantaraan orang-orang saleh sahabatmu, namun langsung dari hadirat Allah azza wajalla. Perbanyaklah bershalawat, kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw, semoga melalui wasilah beliau, pintu rahmat Allah senantiasa menyertai perjalanan kita, kembali kepada-Nya, setiap saat, kapan dan di manapun. Sungguh Dia teramat dekat, kepada hamba-hamba-Nya. ***

Depok, Jumat 17 September 2021

Lihat juga...