Kasus Pelecehan Seksual Anak di Banyumas, Meningkat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Sepanjang tahun 2021 ini, kasus pelecehan seksual serta eksploitasi seks terhadap anak di wilayah Kabupaten Banyumas meningkat. Jika pada tahun sebelumnya, total ada 40 kasus pelecehan seksual terhadap anak, maka pada tahun ini memasuki pertengahan tahun sudah lebih dari 20 kasus yang ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Banyumas.

Ipda Metri Zul Utami dari Unit PPA Polresta Banyumas mengatakan, sebagian besar korban merupakan anak usia 14-15 tahun. Untuk pelaku rata-rata merupakan orang dekat korban, baik saudara ataupun tetangga. Namun, ada beberapa kasus yang pelakunya merupakan orang yang dikenal korban melalui media sosial.

Ipda Metri Zul Utami dari Unit PPA Polresta Banyumas di Mapolresta Banyumas, Jumat (17/9/2021). Foto: Hermiana E. Effendi

“Korban kekerasan seksual anak rata-rata usianya antara 14 tahun hingga 17 tahun, namun sebagian besar usia 14-15 tahun. Ada juga satu kasus yang usianya masih 3,5 tahun dan kemarin sudah sampai pada putusan, pelaku dihukum 5 tahun,” jelasnya, Jumat (17/9/2021).

Lebih lanjut Ipda Metri mengatakan, jika dilihat dari latar belakang korban, sebagian besar komunikasi antara korban dengan orang tua kurang dekat atau sering.  Ipda Metri meminta agar orang tua lebih sering menjalin komunikasi dengan anak, sehingga anak lebih terbuka dan akan bercerita semua hal yang dialaminya.

Kedekatan orang tua dan anak serta terjalinnya komunikasi yang baik akan mencegah tindak pelecehan seksual lebih dini.

Namun, dalam kasus pelecehan seksual terbaru yang ditangani Polresta Banyumas, pelaku justru dari ayah kandung dan saudara laki-laki kandung. Kasat Reskrim Polresta Banyumas, Kompol Berry mengungkapkan, kasus pelecehan seksual yang menimpa A (14) sudah berlangsung lama yaitu 3 tahun.

Awal terungkapnya kasus tersebut saat korban kabur dari rumah dan ia ditemukan oleh salah satu saksi di wilayah Kecamatan Ajibarang sedang berjalan kaki sendirian. Saksi kemudian membawa korban ke Polsek Ajibarang. Saat ditanya, korban mengaku kabur dari rumah karena tidak tahan terhadap perlakuan ayah serta saudara laki-lakinya.

“Jadi korban mengalami pencabulan dan persetubuhan paksa oleh bapak dan kakak kandungnya sendiri, karena sudah tidak tahan, ia kabur dari rumah,” jelas Kompol Berry.

Dari pengakuan pelaku, lanjut Kompol Berry, kakak korban sering melihat video porno, sehingga memaksa adiknya untuk melakukan persetubuhan.

“Antar pelaku ini saling tidak tahu kalau sama-sama melakukan hal tersebut kepada korban dan baru terkuak dalam proses penyelidikan. Mereka tinggal dalam satu rumah, namun ibu korban atau istri pelaku tidak mengetahui hal tersebut dan korban juga tidak berani bercerita kepada ibunya karena diancam oleh kedua pelaku,” terangnya.

Lihat juga...