Kerusakan Terumbu Karang di Pantura Flores Makin Memprihatinkan

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Kerusakan terumbu karang di perairan Pantai Utara (Pantura) Flores sangat memprihatinkan, karena aktivitas pengeboman ikan di wilayah tersebut masih marak terjadi dan minim pengawasan.

“Perairan di perbatasan antara Kabupaten Flores Timur dan Sikka selalu marak aktivitas pengeboman ikan oleh nelayan dari Kabupaten Sikka, yang sering juga tertangkap,” kata Petrus Rinto Fernandez, Kordinator Satwas SDKP Flores Timur, NTT, saat dihubungi abu (8/9/2021).

Rinto menerangkan, tingkat kerusakan terumbu karang di perairan ini sudah mencapai sekitar 80 persen, dan akivitas pengeboman ikan sulit terpantau.

Ia mengaku beberapa kali operasi yang dilakukan gagal, karena saat tim patrol laut tiba di lokasi, pelakunya sudah melarikan diri. Selain itu, terbatasnya sarana dan prasarana serta dana membuat patroli laut secara rutin tidak bisa dilakukan.

Kordinator Satwas SDKP Flores Timur, NTT, Petrus Rinto Fernandez, saat ditemui di Desa Lewotobi, Kecamatan Ile Bura, Sabtu (28/8/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dia menambahkan, kendala tim terpadu dalam melakukan pengawasan laut adalah kurangnya sarana, karena hanya memiliki satu unit ruber boat (perahu karet) untuk pengawasan perairan Flotim.

“Kami kekurangan kapal sea reader yang bisa bergerak cepat. Saat ini kami hanya memiliki satu perahu karet saja. Kami sudah ajukan penambahan kapal, namun mungkin terkendala pemangkasan anggaran akibat pandemi Covid-19,” ujarnya.

Rinto menambahkan, wilayah laut di Pulau Flores, Lembata dan Alor sangat luas dan menjangkau 10 kabupaten, sehingga membuat pengawasan laut mengalami kendala. Selain itu, beberapa wilayah pesisir kesulitan sinyal telepon genggam, sehingga informasi dari masyarakat tidak bisa cepat disampaikan kepada tim patroli laut.

Dia memaparkan, dalam setahun pihaknya hanya dianggarkan dana untuk melakukan patroli laut selama enam kali,  dan ini dirasakan sangat terbatas.

“Kalau di Flores Timur ada tim patroli pengawasan laut, sehingga mudah dalam melakukan patroli. Biasanya biaya bahan bakar ditanggung bersama, sehingga tidak terasa berat,” ucapnya.

Untuk perairan Pantai Selatan Flores, Rinto mengaku aktivitas pengeboman ikan sudah mulai berkurang sejak ditangkapnya pelaku asal Kabupaten Ende dan Lamakera, Flores Timur.

“Dampak pandemi Covid-19 membuat refocusing angaran, sehingga dari 6 kali patroli selama setahun hanya tersisa 2 kali saja patroli laut,” ungkapnya.

Kepala Kantor Yayasan Misool Baseftin Flores Timur, Maria Yosefa Ojan, juga mengaku pihaknya sejak 2016 memberikan bantuan telepon genggam kepada 50 Pokmaswas di 50 desa pesisir.

Evi, sapaannya, menyebutkan dalam perjalanan hanya 10 Pokmaswas saja yang aktif memberikan laporan soal adanya aktivitas penangkapan ikan yang merusak ekosistem di perairan sekitar desa mereka.

“Banyak Pokmaswas yang tidak aktif melaporkan. Ada yang mengaku telepon genggamnya rusak, tidak ada pulsa dan sulit mendapatkan sinyal telepon. Makanya, hanya sekitar 10 Pokmaswas saja yang aktif melaporkan,” tuturnya.

Evi berharap, pemerintah mengalokasikan anggaran lebih untuk melakukan pengawasan laut, terutama mencegah aktivitas pengeboman ikan yang sering terjadi di perairan Flores.

Lihat juga...