Ketika Penguasa Menzalimi Dirinya Sendiri

OLEH: HASANUDDIN

TAHUKAH kamu siapa orang yang zalim itu? Kata Jalaluddin Rumi, “Orang yang zalim itu, adalah mereka yang melakukan sesuatu demi untuk memuaskan dirinya sendiri”.

Pada masa peperangan, Nabi Muhammad saw, seringkali merasa “terbakar” hatinya menyaksikan para tawanan perang yang berhasil mereka tangkap di medan perang. Nabi jika menawan musuhnya dalam peperangan, memperlakukan mereka dengan baik.

Meskipun begitu, tetap saja kelembutan hati beliau merasakan penderitaan yang dialami oleh para tawanan perang itu. Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati hamba-Nya. Mengetahui kepiluan hati kekasih-Nya, (Muhammad saw), Allah lalu menurunkan wahyu:

“Wahai Muhammad, katakanlah kepada mereka; saat ini kalian tertawan dalam ikatan dan rantai-rantai, jika kamu berniat untuk melakukan kebaikan, maka sungguh Allah akan membebaskan kalian dari belenggu itu. Dia akan mengembalikan segala milikmu yang telah hilang dan bahkan akan melipatgandakannya. Allah akan memberikan pengampunan dan keberkahan untukmu di akhirat kelak. Dan juga akan memberi kalian dua gudang harta, yang mana salah satunya adalah gudang yang hilang dari diri kalian dan yang satunya lagi adalah gudang akhirat”.

Kasih sayang Allah begitu luas kepada makhluk-Nya, terutama kepada manusia. Allah tidak pernah berbuat zalim kepada mereka. Dan senantiasa membuka pintu ampunan-Nya. Orang yang tidak mau berjalan di jalan yang benar, jalan yang membuat mereka selamat, itulah orang yang zalim kepada diri mereka sendiri.

Dalam banyak peristiwa, seseorang menjauh dari jalan yang benar, disebabkan karena mengikuti ego dirinya. Ia selalu merasa puas jika menuruti hawa nafsunya sendiri. Ia merasa senang dengan itu, sekalipun ia menindas atau menzalimi orang lain. Padahal, perbuatan zalimnya kepada orang lain semata hanya demi memuaskan egonya. Demikianlah semua kezaliman yang dilakukan seseorang, kepada pihak lain itu tiada lain hanyalah wujud dari pemuasan dirinya saja.

Dalam kisah yang disampaikan pada kasus tawanan perang di atas, Nabi Muhammad saw, justru merasakan kepiluan yang menyiksa dirinya sendiri, tatkala ia melihat tawanan perang yang mereka tawan.

Sekalipun dalam hukum peperangan, menawan pasukan lawan yang bertekuk lutut dan tidak membunuhnya, itulah etika peperangan yang benar. Musuh yang sudah takluk, jangan lagi dibunuh, tapi ditawan dan diberi kesempatan untuk bertobat, dan memilih jalan yang benar bagi keselamatannya.

Berbagai keanehan dalam penegakan hukum yang kita jumpai di negeri ini sungguh memiriskan hati. Banyak sekali kejadian, di mana orang yang tidak sepatutnya dihukum tapi dihukum berat, sebaliknya yang bersalah justru dibebaskan. Sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa aparat hukum, polisi, jaksa maupun hakim tidak sedang menegakkan keadilan, namun sedang menzalimi orang-orang yang mencari keadilan.

Kezaliman itu dapat dipastikan terjadi karena para penegak hukum itu telah mengikuti hawa nafsu mereka, sehingga aneka godaan nafsu mematikan nalar positif serta hati nurani mereka. Artinya, mereka telah menzalimi diri mereka sendiri, yang berakibat hilangnya rasa keadilan, dan inilah yang berdampak luas  terhadap hilangnya rasa keadilan di meja-meja pengadilan. Palu sidang hakim, telah berubah jadi pedang kematian bagi keadilan di pengadilan-pengadilan kita.

Tentu ini amat buruk. Buruk bagi para aparat hukum itu, karena akan merusak jiwa mereka, mematikan nurani dan akal sehat mereka, dan buruk bagi para pencari keadilan.

Penguasa di suatu negeri yang terlibat dalam “pembunuhan” rasa keadilan di negerinya pastilah karena nurani mereka telah mati, spirit kemanusiaan mereka telah hilang dalam dirinya. Itulah dampak dari kezaliman demi kezaliman yang mereka perbuat pada diri mereka, tanpa menyadarinya, sehingga berdampak buruk bagi orang lain.

Penguasa yang zalim seperti itu mesti diberi pertolongan. Dengan mencegah mereka semakin menzalimi diri mereka sendiri. Caranya tentu dengan mengingatkannya, secara baik-baik. Namun jika tidak juga mau berubah dan terus berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, maka menurunkan mereka dari posisinya adalah cara untuk menolong mereka agar tidak terus menzalimi dirinya sendiri, karena berdampak buruk secara luas bagi masyarakat.

“Dan sesungguhnya Nabi Muhammad saw itu memiliki budi pekerti yang luhur” (QS. Al-Qalam: ayat 4).

Semoga para penguasa di negeri ini dapat mengambil suri teladan yang baik pada diri Rasulullah, dalam memimpin bangsa dan negara. ***

Depok, 3 September 2021

Lihat juga...