Komoditas Alpukat Aligator dan Siger Sibatu Mulai Dilirik Petani Lampung

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Berawal dari sekedar tanaman penghias halaman, Alpukat memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat di Kelurahan Pinang Jaya, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung. Bahkan beberapa jenis buat tersebut mulai dilirik oleh petani setempat. 

“Pengembangan alpukat varietas aligator semula sebagai tanaman penghias pekarangan, namun produksinya sangat tinggi dan memiliki nilai ekonomis yang baik bagi petani karena bertajuk rendah serta cepat berbuah,” terang Amat Keri, warga setempat saat ditemui Cendana News, Senin (13/9/2021).

Disebutkan, ada tiga varietas alpukat yang dikembangkan, yakni jenis miki, aligator dan siger sibatu. Budidaya dilakukan dengan tekhnik vegetatif sistem cangkok dan sambung pucuk.

Alpukat aligator sebutnya memiliki bentuk dan ukuran buah besar memanjang. Sebagian buah berbobot rata rata 250 hingga 300 gram. Per kilogram bahkan hanya terdiri dari dua hingga tiga buah. Satu pohon berusia lebih dari empat tahun bisa menghasilkan hinga lima kuintal.

Amat Keri bilang ciri khas alpukat aligator tahan pada hama ulat dan lebih tahan hama dibandingkan jenis lokal. Pemupukan memakai urea, NPK dan pupuk kandang. Agar cepat berbuah ia melakukan perimpilan daun atau pruning.

Sementara jenis siger sibatu yang dikembangkan dari alpukat lokal Lampung memiliki bentuk oval, kulit halus mengkilat dan daging buah seperti mentega.

“Setelah dikembangkan dari bibit cangkokan lalu disambung dengan tanaman produktif agar cepat berbuah,” ulasnya.

Per kilogram pada level petani sesuai grade atau ukuran dijual dengan harga beragam. Grade A bisa dijual mulai harga Rp15.000, grade B Rp 13.000 dan grade C bisa dijual Rp10.000.

Ia mengaku bisa mendapat hasil jutaan rupiah dari komoditas alpukat aligator dan siger sibatu. Selain menjual buah ia mulai menjual bibit dengan sistem cangkok dengan harga mulai Rp100.000 per bibit.

Petani lain, Nurhasnah mengaku menanam alpukat aligator dan siger sibatu. Menanam alpukat sebutnya memiliki fungsi ganda.

“Semula banyak tanaman kayu bayur elang dan medang, karena semakin banyak rumah ditebang sehingga perlu diganti tanaman buah,” ulasnya.

Tanaman buah alpukat sebut Nurhasanah bisa jadi peneduh halaman. Saat menghasilkan buah bisa berfungsi sebagai estetika halaman sekaligus menghasilkan secara ekonomi.

Idi Bantara (kiri) kepala BPDAS Way Seputih Way Sekampung Lampung memperlihatkan jenis alpukat siger sibatu, Senin (2/8/2021) (Dok: Henk Widi)

Idi Bantara, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Way Seputih Way Sekampung Lampung itu menyebut alpukat aligator dan siger sibatu cocok untuk pekarangan dan kebun. Sebagai tanaman pertanian alpukat berfungsi sebagai tanaman konservasi cegah longsor, menyerap air. Pengembangan dilakukan di seluruh wilayah Lampung.

Budidaya bisa diterapkan pada lahan terbatas. Sebagai cara agar masyarakat menanam alpukat pihak BPDAS sebutnya memberi bibit gratis. Selanjutnya masyarakat bisa melakukan perbanyakan secara swadaya.

Lihat juga...