Konservasi Kawasan Tahura Wan Abdul Rachman Jaga Keberlanjutan Air

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Konservasi lingkungan kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman (WAR) yang memiliki luas 22.249, 31 hektare menjadi ekosistem satwa dan fauna. Selain itu, kawasan tersebut juga menjaga keberlanjutan sumber mata air bersih, irigasi pertanian.

Mulyadi, petani di Desa Hurun, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung mengatakan, ia sudah puluhan tahun memanfaatkan air dari Way Hurun. Sungai mengalir sepanjang tahun  bermata air dari Gunung Betung dan menjadi air terjun di bumi perkemahan Hurun.

Pengelolaan Tahura sebutnya disosialisasikan kepada masyarakat oleh Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Sebagai petani, Mulyadi yang tinggal di kawasan penyangga Tahura WAR menyebut kawasan itu dilestarikan sejak tahun 2000 dengan ikut menjaga kelestarian pohon. Sebagian warga bahkan menanam pohon produktif sebagai pendukung.

“Sebagian kawasan dijadikan sebagai hutan konservasi, hutan produksi serta ada area untuk bumi perkemahan yang menjadi tempat untuk belajar menjaga alam tetap lestari, hasilnya warga tetap bisa menikmati sumber pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari hari serta irigasi lahan pertanian,” terang Mulyadi saat dihubungi Cendana News, Rabu (15/9/2021).

Debit air Way Hurun sebut Mulyadi tetap stabil sepanjang tahun. Kala kemarau petani bahkan masih tetap bisa memanfaatkan untuk irigasi. Kala penghujan, keberadaan pohon konservasi ikut mendukung penyerapan air dan mencegah banjir.

Meminimalisir penebangan pohon serta sistem tebang pilih dilakukan pada berbagai jenis pohon sengon, medang, bayur. Sebagian warga pada desa penyangga Tahura WAR bergabung dalam kelompok tani hutan (KTH) memilih menanam pohon produktif jenis pala, jengkol, petai, kelapa hingga kemiri untuk pohon pengganti.

“Keberadaan kelompok tani hutan ikut mendukung konservasi lingkungan dengan membangun kesadaran menjaga pohon untuk kelestarian air,” ulasnya.

Nurhayati, memanfaatkan air yang lancar untuk lahan pertanian di Desa Hurun, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Jumat (20/8/2021). Foto: Henk Widi

Petani lain, Nurhayati mengaku kelestarian Tahura WAR sangat penting. Sungai Way Hurun bersumber dari Tahura menjadi tempat untuk mandi, mencuci dan menyiram tanaman.

Ekonomi berkelanjutan memanfaatkan air dilakukan dengan membuat kolam ikan. Sejumlah ikan air tawar yang mendapat pasokan air bersih dibudidayakan dengan sistem air deras. Hasilnya kualitas ikan air tawar jenis patin, lele, gurame hingga ikan nila menjadi bahan kuliner.

Kelestarian air diakuinya sangat dirasakan manfaatnya bagi petani untuk penanaman padi, sayuran.

“Petani bisa tetap menjaga sumber kehidupannya dengan menanam padi, air yang lancar juga mendorong penanaman pohon di dekat sungai,”ulasnya.

Harjono, warga Desa Hanura tepat berbatasan dengan Desa Hurun mengaku kelestarian Tahura jadi sumber kehidupan warga. Tahura bahkan telah dilestarikan sejak zaman transmigrasi karena memiliki manfaat yang cukup besar.

Menjaga kelestarian pohon sebut Harjono menjadi tabungan jangka panjang. Sejumlah pohon yang sengaja ditanam untuk bisa dipanen sebagai bahan bangunan dominan berusia enam tahun. Selain tanaman yang bisa diambil kayu, sistem tumpang sari dengan menanam pohon pala dominan dikembangkan warga. Sebab pohon pala memiliki nilai ekonomis tinggi dan efektif mencegah longsor.

Lihat juga...