Konsumsi Jamu Untuk Tingkatkan Daya Tahan Tubuh

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Di tengah wabah corona, jamu tradisional menjadi pilihan masyarakat untuk diminum dalam upaya menjaga daya tahan tubuh agar tetap sehat.

Pedagang jamu gendong yang setiap hari keliling pun kerap kebanjiran pembeli. Seperti Karmi, pedagang jamu gendong yang sudah menjalani profesinya selama 12 tahun keliling wilayah Jakarta Timur menjajakan jamu ramuannya.

“Alhamdulillah, jamu rempah yang saya buat laris, tiap hari habis. Saya jualan dua kali, pagi dan sore keliling bawa 8 botol jamu berbagai rasa,” ujar Karmi, pedagang jamu tradisional kepada Cendana News, Jumat (24/9/2021).

Di antaranya sebut dia, kunyit asem, kunyit tawar, jahe merah, temulawak, sambiloto, beras kencur, dan wedang uwuh. Ada juga jamu seduh kemasan.

Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania, pada diskusi virtual tentang kesehatan di Jakarta yang diikuti Cendana News, Rabu (23/12/2020). -Foto: Sri Sugiarti

Menurutnya, jamu yang banyak dipesan masyarakat selama pandemi Covid-19 adalah temulawak, kunyit asem, jahe merah, wedang uwuh dan beras kencur paling laris.

“Temulawak atau empon-empon dan jamu jahe merah dapat diminum untuk menjaga stamina tubuh. Bahkan, sekarang ini diistilahkan empon-empon itu untuk menangkal virus corona,” ujar perempuan kelahiran Solo 53 tahun ini.

Harga jamu tradisional yang dijual Karmi Rp4.000 per gelas.  Dalam berjualan, dia selalu mentaati protokol kesehatan dengan memakai masker untuk melindungi diri dan memastikan higienitas jamu yang disajikan kepada pelanggan.

Karmi mampu mempertahankan kepercayaan pelanggannya dengan menjaga keaslian bahan baku atau rempah-rempah. Serta rasa dan kebersihan dalam pengolahan jamunya.

Untuk membuat jamu kunyit asem, misalnya, disiapkan rempah biang kunyit segar. Kemudian diparut halus, lalu parutan kunyit itu diberi sedikit air untuk diperas hingga keluar sarinya.

Sari kunyit kemudian direbus bersama asem Jawa, hingga menghasilkan kunyit asem yang berkhasiat bagi kesehatan tubuh.

“Semua jamu yang saya buat tidak pakai bahan kimia, takut ada efek sampingnya. Jadi, alami dan dijamin khasiatnya bagus untuk kesehatan tubuh nggak ada efek sampingnya,” ujar Karmi.

Risna Dewi (32), seorang pembeli jamu, mengatakan mengkonsumsi jamu salah satu cara agar imun tubuh tetap kuat di tengah pandemi corona yang masih melanda.

“Ya, memang wabah corona ini sudah agak mereda, tapi kita harus tetap waspada dengan minum jamu tradisional ini biar imunnya kuat,”  ujar Risna.

Menurutnya, jamu yang terbuat dari bahan rempah lebih terasa aman ketimbang harus minum obat kimia.

Hal senada juga diakui Wartini (70), yang mengaku rajin minum jamu. Apalagi di usianya yang lansia, membuat Wartini harus benar-benar waspada agar terhindar dari Covid-19.

“Jaga imun tubuh, saya mah minum jamu  jahe merah dan kunyit asem, kadang empon-empon. Insyaallah itu corona minggat, ya,” ujar Wartini, nenek 9 cucu ini.

Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania, mengatakan mengonsumsi jamu di tengah pandemi Covid-19 menjadi kegiatan untuk  meningkatkan pertahanan imun tubuh.

Dalam menjaga kesehatan tubuh jelas dia, tidak hanya menu makanan yang bisa diganti- ganti, tapi variasi jamu yang dikonsumsi perlu dilakukan agar masyarakat tidak merasa bosan saat meminumnya.  Contohnya, hari pertama minum kunyit asem, lalu hari ke dua beras kencur, dan hari ke tiga wedang jahe atau bir pletok.

Yang penting, menurutnya minuman jamu yang dikonsumsi itu berisi bahan- bahan herbal yang punya banyak manfaat untuk tubuh.  “Ya, bahan jamu atau herbalnya  punya sifat imunomodulasi, antioksidan, atau pun anti peradangan,” ujar dokter Inggrit.

Menurutnya, jamu maupun olahan herbal  bisa dikonsumsi oleh masyarakat sebagai tindakan preventif meningkatkan imun tubuh mencegah Covid-19. Bahkan, juga dapat membantu pengobatan Covid-19 sebagai pendamping dari obat- obatan yang diberikan oleh dokter.

Terpenting, kata dia, takaran untuk mengonsumsi jamu harus disesuaikan kebutuhan kondisi tubuh. Jika pada orang yang sehat, maka disarankan konsumsi jamu dapat dilakukan dua kali dalam satu hari di pagi dan malam hari. Sementara untuk orang yang sedang sakit, konsumsi jamu bisa ditingkatkan menjadi tiga hingga empat kali dalam satu hari.

“Jamu yang disarankan untuk dikonsumsi di masa pandemi ini, yaitu jamu yang diolah dari bahan-nahan rempah segar secara langsung,” imbuhnya.

Beberapa bahan rempah segar yang bisa diolah sebagai jamu di antaranya sebut dia, kunyit, temulawak, sambiloto, jahe, sereh, atau jinten.

“Ragam rempah ini  terbukti dalam beberapa penelitian ilmiah mengandung manfaat anti peradangan, antioksidan, dan imunomodulasi,” katanya.

Lihat juga...