KPK Mengklaim Kantongi Bukti Kuat Budhi Sarwono Menerima Fee Rp2,1 miliar

Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono, mengenakan rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Jumat (3/9/2021) - Foto Ant
JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan, memiliki bukti kuat terkait penerimaan fee sekira Rp2,1 miliar, oleh tersangka Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono (BS). Fee tersebut diterima, dari berbagai pekerjaan proyek infrastruktur.

“Kami tegaskan, bahwa KPK telah memiliki bukti yang kuat menurut hukum terkait dugaan tindak pidana korupsi dimaksud sehingga perkara ini naik ke tahap penyidikan,” kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri, Sabtu (4/9/2021).

Hal tersebut sebagai respons atas bantahan tersangka Budhi, soal penerimaan fee sekitar Rp2,1 miliar tersebut. KPK, pada Jumat (3/9/2021) telah menetapkan Budhi bersama Kedy Afandi (KA) dari pihak swasta, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait pengadaan barang dan jasa di Pemkab Banjarnegara, Jawa Tengah, di 2017 sampai 2018.

KPK  mengharapkan, tersangka dan pihak-pihak lain yang nantinya dipanggil dan diperiksa terkait kasus tersebut, mau bertindak kooperatif dengan menerangkan fakta-fakta sebenarnya yang diketahui di hadapan penyidik.

Dalam konstruksi perkara KPK menyebut, di September 2017, Budhi memerintahkan Kedy yang juga orang kepercayaan dan pernah menjadi ketua tim sukses dari Budhi saat mengikuti proses pemilihan kepala daerah Kabupaten Banjarnegara, untuk memimpin Rapat Koordinasi (rakor).
Rakor tersebut dihadiri oleh para perwakilan asosiasi jasa konstruksi di Kabupaten Banjarnegara, damn digelar di salah satu rumah makan. Dalam pertemuan tersebut, disampaikan sebagaimana perintah dan arahan Budhi, Kedy menyebut paket proyek pekerjaan akan dilonggarkan dengan menaikkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) senilai 20 persen, dari nilai proyek.
Dan untuk perusahaan-perusahaan yang ingin mendapatkan paket proyek dimaksud, diwajibkan memberikan komitmen fee sebesar 10 persen dari nilai proyek. Pertemuan lanjutan kembali dilaksanakan di rumah pribadi Budhi, yang dihadiri oleh beberapa perwakilan Asosiasi Gapensi Banjarnegara. Dan kali ini secara langsung Budhi menyampaikan sejumlah informasi, diantaranya menaikkan HPS senilai 20 persen dari harga saat itu.
Dengan pembagian lanjutannya adalah, senilai 10 persen untuk Budhi sebagai komitmen fee dan 10 persen sebagai keuntungan rekanan. Selain itu, Budhi berperan aktif dengan ikut langsung dalam pelaksanaan pelelangan pekerjaan infrastruktur, diantaranya membagi paket pekerjaan di Dinas PUPR Kabupaten Banjarnegara, mengikutsertakan perusahaan milik keluarganya, dan mengatur pemenang lelang.

Kedy juga selalu dipantau serta diarahkan oleh Budhi, saat melakukan pengaturan pembagian paket pekerjaan, yang nantinya akan dikerjakan oleh perusahaan milik Budhi yang tergabung dalam Grup Bumi Redjo. Penerimaan komitmen fee senilai 10 persen oleh Budhi, dilakukan secara langsung maupun melalui perantaraan Kedy.

KPK menduga, Budhi telah menerima komitmen fee atas berbagai pekerjaan proyek infrastruktur di Kabupaten Banjarnegara sekitar Rp2,1 miliar. Atas perbuatannya, Budhi dan Kedy disangkakan melanggar Pasal 12 huruf i dan atau Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. (Ant)

Lihat juga...