Lahan Petani di Beberapa Desa di Utara Kabupaten Bekasi Mulai Teraliri Air

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Upaya penanggulangan saluran air Cikarang Srengseng Hilir, di wilayah Utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat mulai berdampak bagi areal persawahan. Meski belum maksimal, tapi setidaknya melalui upaya normalisasi yang sedang berjalan, petani mulai menaruh harapan hasil panen lebih maskimal.

Ustadz Jejen Jaenuddin, Kordinator Gotong royong petani 23 desa di Utara Bekasi, saat menjaga alat berat, Senin (13/9/2021). Foto: Muhammad Amin

“Aliran air sudah mulai masuk ke areal persawahan, melalui saluran air Cikarang Hilir. Petani di desa sudah biasa menyengget air menggunakan mesin,” ungkap Ustad Jejen Jaenudin, ketua Gotongroyong Petani 23 Desa kepada Cendana News, Senin (13/9/2021).

Debet di aliran saluran irigasi Kali Cikarang Hilir dari hulu melalui pintu air CBL sudah meningkat. Cirinya, pasti dibarengi dengan aneka sampah dari hulu.

Menurut dia, saat ini petani hanya berpikir bagaimana bisa menyelamatkan tebaran padi yang telah dilakukan. Dulu pernah membuat sebaran tapi gagal karena kekeringan. Akhirnya petani bergerak bersama gotong royong membersihkan aliran kali agar aliran kali di Cikarang Hilir maksimal.

Disebutkan juga, masih ada tiga desa yang belum teraliri air sama sekali, seperti di Pantai Harapan Jaya di Muaragembong, Sukaringin di Sukawangi dan Jayabakti. Petani di tiga desa itu juga berharap normalisasi bisa maksimal untuk mendukung pertanian di wilayahnya.

“Normalisasi yang dilaksanakan setelah ada gerakan masyarakat petani mendesak pemerintah, hingga akhirnya ada kerjasama dengan BBWS Cilicis dan Citarum dengan melibatkan PJT yang sama-sama membantu alat berat untuk normalisasi,” paparnya mengatakan bahwa normalisasi di Kali Cikarang Hilir bukan Project Pj. Bupati Bekasi.

Dalam kesempatan itu Jejen menyampaikan, normalisasi saluran irigasi kali alam untuk pertanian di wilayah Utara Bekasi yang tengah dilaksanakan belum sampai 2 Kilometer. Sementara panjang Kali Cikarang Hilir mencapai 32 Kilometer.

“Sekarang ada lima eskavator, yang beroperasi di beberapa titik. Tapi saat ini, dua alat berat sedang rusak sejak Sabtu kemarin, yang maksimal sebenarnya hanya satu di hulu karena menggunakan alat besar jenis PC30,” jelas Jejen memperkirakan normalisasi itu tidak selesai dalam sebulan.

Alat berat jadi kendala utama, selain terjadi kerusakan kerjanya pun tidak maksimal apalagi alat berat bantuan dari PSDA Kabupaten Bekasi, cocoknya untuk normalisasi tersier, bukan aliran kali seperti sekarang. Kondisi itu diakuinya sudah disampaikan langsung ke PSDA.

Salah seorang Petani di Sukakerta, Nadih, berharap normalisasi Kali Cikarang Hilir bisa terealisasi menyeluruh sepanjang 32 KM, agar memberi dampak bagi areal persawahan di wilayah Utara Bekasi yang telah bertahun-tahun mengalami kesusahan air.

“Kami semua bergotong royong, menjaga bergantian alat berat untuk normalisasi. Ini sebagai bentuk dukungan petani agar normalisasi saluran air di Kali Cikarang Hilir berjalan maksimal,” paparnya.

Lihat juga...