Lumbung Padi Petani di Lamsel Jaga Ketahanan Pangan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Impor beras bisa diminimalisir, bahkan dicegah, jika produksi padi petani dalam negeri melimpah, dengan didukung kesadaran untuk menyimpan stok untuk kebutuhan sendiri. Kearifan lokal masyarakat petani di Lampung Selatan, pun telah melakukan hal itu sehingga tak pernah mengalami kekurangan beras. Sebaliknya jika terjadi impor beras, mereka justru merasa rugi karena harga beras lokal, anjlok.

Suyatinah, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, sejak turun-temurun melakukan penyimpanan gabah dan beras di lumbung sebagai stok pangan. Ia memiliki dua bidang sawah, dengan luas total dua bidang sawah hanya setengah hektare.

Pada satu bidang lahan sawah, ia menanam padi varietas Ciherang dan varietas IR 64. Meski menunggu usia panen saat padi menguning 120 hari, ia masih memiliki stok sekitar 20 karung gabah. Ia bahkan masih memiliki cadangan beras sekitar lima kuintal dua pekan sebelum panen. Swasembada dilakukan petani secara tradisional memanfaatkan gudang atau lumbung.

Suyatinah mengaku sudah sejak puluhan tahun memiliki lumbung, yang dibuat khusus untuk penyimpanan gabah kering giling (GKG). Gabah kering panen (GKP) terlebih dahulu harus dijemur sebelum disimpan di lumbung. Prinsip menghindari menjual gabah dipertahankan untuk kemandirian pangan. Saat paceklik atau gagal panen, ia masih memiliki stok gabah.

Muhajirin (kiri), menimbang beras yang diperoleh dari simpanan gabah di gudang milik Suyatinah di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (27/9/2021). -Foto: Henk Widi

“Resep mempertahankan cadangan gabah di gudang dengan memperhitungkan minimal satu kali masa panen, gabah distok maksimal masih tersimpan dua pekan sebelum panen, sebagian bisa dijual dalam bentuk beras yang telah digiling, agar stok di gudang bisa diganti dengan gabah baru hasil panen, begitu terus berkelanjutan,” terang Suyatinah, saat ditemui Cendana News, Senin (27/9/2021).

Sementara itu untuk mencegah gangguan seperti tikus dan serangga lain yang bisa merusak gabah atau beras di gudang, Suyatinah juga menggunakan cara tradisional dengan memanfaatkan bahan-bahan alami. Misalnya, bintaro, serai, salam dan daun jeruk. Sedangkan untuk menghindari kelembapan berlebih, Suyatinah menggunakan karung plastik.

Berkat penyimpanan di lumbung, ia tidak pernah kekurangan beras. Ia bahkan bisa menjual beras saat membutuhkan uang.

Suyatinah juga mengatakan, menyimpan beras memiliki fungsi sebagai cadangan pangan sekaligus sarana gotong royong. Menyimpan beras menjadi cara bagi masyarakat agraris yang dominan berasal dari Yogyakarta untuk saling berbagi.

Saat ada kerabat, tetangga menggelar hajat pernikahan, beras minimal 20 kilogram hingga 50 kilogram akan diberikan. Saling membantu dengan beras menjadi pengganti uang, sehingga penyimpanan gabah sangat penting.

“Petani tidak pernah membeli beras selama bisa menyimpan stok gabah yang bisa digiling sewaktu-waktu untuk kebutuhan keluarga,” ulasnya.

Menurut Suyatinah, petani di daerahnya rata-rata memiliki stok gabah dan beras minimal 1 ton. Stok tersebut berfungsi sebagai tabungan dan investasi yang bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu, bahkan saat kebutuhan mendesak. Iamengaku pernah menjual gabah kering giling sebanyak 1 ton untuk kebutuhan mendesak menggelar resepsi sang anak.

Manfaat menyimpan stok gabah dan beras juga dirasakan oleh Muhajirin, seorang pengepul beras. Ia menyebut kerap mencari beras dari petani dengan melihat kualitas warna dan butiran. Rata-rata pembelian dari petani menyesuaikan kualitas asalan, medium dengan harga Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram. Beras dari petani akan dibeli jelang panen karena akan diganti dengan hasil panen.

“Banyak petani memiliki stok gabah dalam gudang, saat akan dijual terlebih dahulu digiling, sehingga beras tetap baru, bukan stok lama,” terangnya.

Muhajirin mengatakan, selama stok beras dari petani masih mencukupi, masyarakat di pedesaan tidak memerlukan beras impor. Sebaliknya, beras impor menurutnya justru menyebabkan harga beras petani, anjlok.

Menurutnya, beras lokal tidak bisa bersaing dengan beras impor. Beras kualitas premium memiliki harga lebih tinggi di kisaran Rp15.000, sehingga warga memilih beras medium.

Lihat juga...