Manfaatkan Lahan Kosong, Warga Kedungkandang Terapkan ‘Urban Farming’

Editor: Makmun Hidayat

MALANG — Urban farming atau pertanian perkotaan menjadi salah satu kegiatan yang mulai banyak digemari masyarakat. Terlebih dalam kondisi pandemi di mana orang lebih banyak melakukan aktivitas di rumah. 

Seperti halnya yang dilakukan Ibu-ibu Dasawisma di RT 04 RW 04, Kelurahan Kedungkandang, Kota Malang.

Dijelaskan Wakil Ketua RW 04, Aisyah, awal kali kegiatan urban farming mulai digalakkan, berawal dari penunjukkan dari lurah setempat agar wilayah RT 04 RW 04 bisa mewakili Kelurahan Kedungkabdang untuk mengikuti lomba urban farming. Dari situ kemudian ia mulai menggerakkan Ibu-ibu Dasawisma untuk mulai menanam.

“Jadi kita siapkan bibit tanaman untuk kemudian ditanam di masing-masing rumah warga. Atau bisa juga ditanam dengan memanfaatkan lahan kosong sekitar yang masih belum terpakai,” jelasnya saat ditemui Cendana News di salah satu rumah warga, Senin (27/9/2021).

Aisyah dan Wahyudi menunjukkan hasil penerapan urban farming di lingkungannya,
Senin (27/9/2021). Foto: Agus Nurchaliq

Beberapa tanaman yang ditanam di antaranya bayam brasil, kaylan, terong, kangkung, cabe dan tomat, sebutnya.

Setelah beberapa bulan ditanam, lanjut Aisyah, tanaman tumbuh dengan subur sehingga sudah mulai bisa dipanen. Setelah dipanen, selain dikonsumsi pribadi oleh masyarakat, juga untuk dijual.

“Ada beberapa tanaman memang yang untuk dijual, tapi ada juga untuk dikonsumsi pribadi. Terutama tanaman yang ditanam di masing-masing rumah warga,” terangnya.

Namun demikian, diakui Aisyah, meskipun ia sudah berusaha mendorong warganya untuk mulai menerapkan urban farming, tapi tidak semua warga mau melakukannya.

“Padahal kita sudah membuat bibitnya dan sudah kita bagikan ke rumah-rumah warga, tapi ternyata hanya sebagian saja yang mau atau telaten merawat tanamannya. Memang kalau dari hatinya sudah tidak suka tanaman, ya pasti akan susah untuk merawat tanaman, apalagi untuk menerapkan urban farming,” ujarnya.

Sementara itu salah satu warga, Wahyudi, mengaku sudah mulai menerapkan urban farming sejak 2 tahun lalu dengan melakukan budidaya kangkung secara hidroponik.

“Saya belajar pertanian hidroponik ini dari Youtube. Dari beberapa tanaman yang saya coba tanam, hasil yang paling bagus adalah kangkung,” akunya.

Berbeda dengan kebanyakan pelaku hidroponik yang menggunakan nutrisi AB Mix untuk memacu pertumbuhan tanaman. Wahyudi justru membuat racikan nutrisi tanaman sendiri untuk menyuburkan tanamannya.

“Nutrisi hidroponik saya racik sendiri menggunakan campuran pupuk NPK dan KCL. Karena kalau menggunakan menggunakan AB Mix harganya terlalu mahal,” akunya seraya menandaskan kangkung di sini usia panennya sekitar 22-25 hari, kemudian bisa langsung dijual.

Lihat juga...