Mantan Atlet Karate dari Merauke Jadi Pemain PES

Atlet esport Laode Nurdiansyah, wakil Papua untuk cabang olahraga ekshibisi esport PON XX Papua, di arena hoki dan kriket di Doyo Baru, Jayapura, Papua, Selasa (21/9/2021). -Ant

JAYAPURA – Menjadi atlet esport tidak pernah terbayang sebelumnya bagi Laode Nurdiansyah. Sejak di bangku Sekolah Dasar hingga 2010, pria asal Merauke, Papua itu menggeluti olahraga karate.

Berbagai event, baik tingkat daerah maupun nasional telah dicicipi Laode, di antaranya Kejurda Jayapura dan Sorong, Kejurnas Piala Mendagri Jambi dan Semarang, Kejurnas Inkado DKI Jakarta.

“Mengarah ke esport tidak ada rencana,” ujar Laode yang mewakili Papua untuk game eFootball PES 2021 dalam ekshibisi esport Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua.

“Cuma sekadar hobi, tapi ada wadah untuk disalurkan tidak menyangka juga bisa sampai sejauh ini,” dia melanjutkan.

Laode mulai bermain PES sejak versi pertama game video sepak bola tersebut dirilis — PES 1 diluncurkan sekira 2010. Kegemarannya bermain game sempat terganjal izin sang istri. Sebab, esport menurut Laode masih sangat asing di Papua, terutama di Merauke. Apalagi, usia Laode yang tak lagi muda, 35 tahun, membuat dirinya dianggap hanya membuang waktu semata.

Namun, setelah mengikuti kompetisi di tingkat daerah dan mengemas gelar juara, Laode tidak hanya mengantongi lampu hijau dari sang istri, tetapi kini juga telah mendapat dukungan penuh dari pasangannya.

Lebih dari itu, kegigihan bapak yang memiliki tiga orang putri itu juga berbuah manis, setelah berhasil lolos kualifikasi dan menjadi wakil Papua ketika untuk pertama kalinya esport dipertandingkan di ajang olahraga multievent nasional.

Usia Bukan Masalah

Laode menjadi peserta dengan usia tertua di ekshibisi esport PON Papua. Dia terpaut 22 tahun dengan peserta usia termuda, Muhammad Rafli Setiawan, asal DKI Jakarta yang berusia 13 tahun.

Pria yang sehari-hari bekerja dalam bidang jasa di bandara Mopah, Merauke, itu mengaku pernah merasa terlalu tua untuk esport.

“Merasanya karena mungkin sudah terlambat karena keadaan. Di zaman sekarang ini baru berkembanglah esport, dengan umur kita sudah melampaui seperti itu,” kata Laode.

Pernah suatu ketika, Laode bercerita, saat dia mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi, beberapa anak usia sekolah menengah (SMP), berbisik mengatakan, bahwa dia terlalu tua untuk bertanding esport.

Namun, anggapan orang — bahkan ketika teman-temannya menganggap sebelah mata olahraga esport — tidak digubris Laode. Dia berharap, setelah mengikuti PON dapat bergabung dengan klub dan menjadi pro player.

Lebih dari itu, kecintaannya dengan esport tidak hanya untuk dirinya sendiri, dia berkeinginan untuk memajukan komunitas dan ekosistem esport di Merauke.

Lihat juga...