Masjid Sambisari, Menyimpan Sejarah Perkembangan Islam di Yogyakarta

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Masjid Sambisari mungkin sepintas terlihat seperti masjid pada umumnya. Padahal masjid ini sebenarnya merupakan salah satu masjid tua yang menyimpan sejarah perkembangan Islam di Yogyakarta. 

Ya, masjid dengan bangunan seluas 400 meter persegi ini merupakan salah satu dari sekian banyak masjid Kagungan Dalem atau masjid milik Keraton Yogyakarta. Dibangun tahun 1770 masjid ini juga memiliki areal makam di bagian belakang sebagaimana masjid keraton pada umumnya.

Seperti masjid keraton lainnya, ciri Masjid Sambisari sama persis dengan masjid yang ada di Plosokuning dan Mlangi. Yaitu terdapat makam kuno, bangunan berbentuk bujur sangkar, beratap tumpang dua, memiliki bedug dan mimbar, serta kolam mengelilingi masjid.  Sayangnya karena selama berpuluh puluh tahun dikelola masyarakat sekitar, kolam serta sejumlah pohon sawo di sekeliling masjid, telah hilang dan tanpa bekas.

Salah seorang tim dari Golongan Kemasjidan Kawedanan Pangulon Keraton Yogyakarta, Rachmadi Seloharjoso, mengatakan pembangunan Masjid Sambisari memang tidak bisa dilepaskan dari Masjid Patok Negoro di Plosokuning dan Mlangi, Sleman.

Rachmadi Seloharjoso selaku Tim Golongan Kemasjidan Kawedanan Pangulon Keraton Yogyakarta (masker putih), Kamis (9/9/2021). -Foto Jatmika H. Kusmargana

Pembangunan Masjid Sambisari tepatnya dilakukan oleh Muhammad Cahsan Bisri di atas tanah sultan atau tanah perdikan sekitar 250 tahun silam. Kemudian diteruskan oleh sepupunya bernama Muhammad Salim yang merupakan imam pertama Masjid Sambisari.

Tanah perdikan tempat pembangunan masjid ini diberikan oleh Keraton Yogyakarta sebagai hadiah atas jasa syiar/dakwah agama Islam di wilayah Sleman timur. Di mana saat itu tempat ini dijadikan pusat pertahanan, pusat pemerintahan, pusat penghulu ijab kabul, mengislamkan orang dan pelestarian budaya Islam berupa gunungan/kirab budaya, sadranan, ruwahan, rabu pungkasan dan kesenian salawatan Jawa yang saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat setempat.

“Mbah Kiai Raden Muhammad Salim (Sambisari) adalah putra dari Mbah Kiai Raden Mlangi/Ny Romli putra dari Mbah Kiai Raden Mursodo (Plosokuning), Mbah Kiai Raden Mursodo putra dari Mbah Syeikh Kyai Nur Iman (Mlangi) alias B.P.H Sandiyo/Radèn Mas Ichsan, yang tak lain adalah putra dari Prabu Amangkurat IV, Raja Mataran Islam,” katanya, Kamis (9/9/2021).

Menurut takmir Masjid Sambisari, Achmad Nur Aziz asal sejarah nama Dusun Sambisari sendiri berasal dari nama Kiai Chasan Bisri/Muhsin Besari. Diambil dari kata “Bisri”/” Besari”, menjadi “Mbisari” kemudian menjadi “Sambisari”.  “Dan akhirnya sampai sekarang pun menjadi Dusun Sambisari,” katanya.

Sejumlah tokoh maupun ulama besar di Sambisari yang masih ada hubungan dengan Keraton Yogyakarta diketahui dimakamkan di komplek belakang Masjid Sambisari. Di antaranya Muhammad Chasan Bisri/putra Kiai Nur Iman Mlangi. Kiai Raden Muhammad Salim/cucu Kiai Mursodo Plosokuning.

Kiai Raden Mikhibat/Kiai Hafid/Kiai Hasan putra dari Kiai Muhammad Salim. Demang Imam Tafsir/Demang Sambisari 1, cucu Kiai Mikhibat. Kiai Raden Demang 2 Sambisari/Kiai Raden Imam Fakih, putra Mikhibat. KH. Abdul Syukur/putra Demang 2, hingga sejumlah kerabat keraton lainnya.

Lihat juga...