Masyarakat Candimulyo Miliki Puluhan Lumpang Batu Kuno

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Kawasan Prambanan di kabupaten Sleman, selama ini dikenal sebagai pusat peradaban besar di era kerajaan Mataram Kuno atau Medang, sekitar abad 8-10 Masehi. 

Hal itu dibuktikan dengan keberadaan puluhan kompleks candi megah seperti Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Ratu Boko, Candi Plaosan, dan banyak lagi, yang tersebar di kawasan yang dikenal dengan Dataran Kewu ini.

Selain peninggalan tempat peribadatan dan pendarmaan berupa candi Hindu-Budha, ternyata jejak sisa-sisa peradaban hampir 1000 tahun silam itu sampai sekarang masih bisa terlihat di salah satu kampung yang ada di kawasan ini.

Kampung itu adalah kampung Taman Candimulyo, dusun Karangmojo, Tamanmartani, Kalasan, Sleman.

Seluruh warga yang tinggal di kampung ini dulu merupakan warga yang tinggal di kompleks Candi Prambanan. Mereka lalu direlokasi ke kawasan ini, seiring renovasi dan pengembangan kawasan Candi Prambanan pada sekitar 1983.

Di kampung kecil yang terletak sebelah barat sungai Opak inilah, kita akan bisa melihat sisa-sisa perkakas rumah tangga megalitik masyarakat kuno saat itu. Berupa puluhan lumpang batu kuno beraneka bentuk berusia ratusan tahun.

“Ada sekitar 40an lumpang yang terdapat di sini. Lumpang-lumpang ini ditemukan kakek nenek kami dan diwariskan secara turun-temurun. Ada yang ditemukan di sungai, terpendam di halaman rumah, pekarangan, tegalan, sawah, dan sebagainya,” ungkap tokoh masyarakat kampung Taman Candimulyo, Seto Legowo, Minggu (26/9/2021).

Bentuk lumpang atau bejana yang biasa digunakan untuk menumbuk padi atau biji-bijian ini beraneka macam. Mulai dari persegi, bulat hingga kotak memanjang. Hebatnya, hampir semua lumpang itu memiliki ukuran luar biasa besar. Berkisar antara 30 cm hingga 90 cm.

“Saat ini semua lumpang ini kita kumpulkan di sini. Karena ini kan merupakan peninggalan sejarah para leluhur kita dulu. Sehingga harus kita lestarikan bersama sama. Jangan sampai rusak, apalagi hilang,” katanya.

Bersama warga, Seto mengaku akan melestarikan dan menjadikan lumpang-lumpang kuno tersebut sebagai ikon wisata desa kampung Taman Candimulyo. Sehingga, diharapkan bisa menjadi salah satu daya tarik wisata di desanya.

“Kita ingin menjadikan lumpang-lumpang ini sebagai ikon wisata desa. Sehingga, selain bisa menjadi tempat belajar bagi anak cucu, juga bisa menjadi daya tarik wisata kampung Taman Candimulyo yang sedang kita rintis,” katanya.

Sementara itu salah seorang pengunjung, Muhammad, mengaku tertarik sekaligus sedikit terkejut melihat keberadaan puluhan lumpang batu kuno di tempat ini. Pasalnya, selama ini ia mengaku belum pernah mendengar adanya begitu banyak lumpang yang disimpan oleh masyarakat desa.

“Baru tahu kalau ternyata di sini ada begitu banyak lumpang kuno seperti ini. Di pemberitaan juga belum pernah dengar. Sangat menarik,” ungkapnya.

Lihat juga...