Masyarakat Lewotobi di Flotim Diminta Jaga Terumbu Karang

LARANTUKA — Masyarakat Desa Lewotobi, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur (Flotim) Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta menjaga terumbu karang yang berada di perairan desanya karena sudah bertumbuh dengan baik semenjak dilakukan restorasi karang 2017 lalu.

Staf Yayasan Misool Baseftin Flores Timur, NTT, Ayub saat ditemui di Desa Lewotobi, Kecamatan Ile Bura, Sabtu (28/8/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Kami selalu berpesan agar pemerintah desa dan masyarakat bisa menjaga terumbu karang yang sudah direstorasi dan bertumbuh dengan baik,” kata Staf Yayasan Misool Baseftin Flores Timur, NTT, Ayub saat dihubungi, Rabu (8/9/2021).

Ayub menyebutkan, karang yang dilakukan restorasi hasil kerjasama dengan pemerintah desa di tahun 2017 lalu pertumbuhannya sudah bagus dan sesuai dengan harapan.

Dikatakan, dalam setahun rata-rata pertumbuhan karangnya mencapai 10 sentimeter sehingga selama empat tahun karang tersebut sudah bertumbuh sepanjang 40 sentimeter.

Menurutnya, keberhasilan kegiatan transplantasi karang dengan menggunakan 10 media tanam berbentuk meja tersebut bisa dikatakan berhasil dan memuaskan.

“Kegiatan transplantasi 2017 lalu bisa dikatakan sudah berhasil. Makanya kami kembali melakukan tranplantasi di areal yang sama dengan menggunakan 25 media tanam berbentuk jaring laba-laba,” ungkapnya.

Ayub mengharapkan agar perawatan dan pengecekan rutin terumbu karang yang dilakukan dahulu bisa terus berlanjut, agar karang bisa bertumbuh maksimal.

Dia meminta agara minimal seminggu sekali karang dibersihkan dari kotoran yang menempel di karang maupun media tanam termasuk sampah plastik.

Menurutnya, pertumbuhan karang bisa maksimal karena adanya perawatan dan perairan tersebut bebas dari sampah terutama sampah plastik dan kain yang sering dibuang masyarakat ke laut.

“Saya melihat kondisi perairan dan pantainya sangat bersih. Paling-paling hanya satu dua sampah plastik saja di pesisir pantai. Harapakan kita pemerintah desa dan masyarakat bisa menjaga terumbu karang ini dari aktivitas pengrusakan,” pesannya.

Sementara itu Kepala Desa Lewotobi, Tarsisius Buto Muda mengakui, pihaknya membentuk Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas) yang menjaga ekosistim laut termasuk rutin mengecek dan membersihkan terumbu karang yang ditransplantasi.

Asis sapaannya menyebutkan, terumbu karang di perairan desanya rusak akibat maraknya aksi pengeboman ikan oleh nelayan dari luar desanya. Selain itu saat menangkap ikan dengan menembak atau berjalan dan menginjak karang saat menombak ikan di malam hari menggunakan penerangan.

“Adanya peraturan desa mengenai perlindungan laut dan pesisir membuat masyarakat sudah sadar untuk menjaga laut. Dulu mereka kesulitan mendapatkan ikan saat memancing menggunakan peralatan tradisional tapi sekarang sudah mulai banyak ,” ungkapnya.

Lihat juga...