Memahami Komponen Penting dalam Pengembangan Bakat Anak Autis

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Kedisiplinan dalam pengembangan minat dan bakat anak, merupakan hal yang penting. Ditambah dengan kesabaran dan pengetahuan orang tua dan pembimbing, akan mampu mendorong anak autisme untuk fokus pada capaian prestasi di bidang yang diminati.

Creative Art Facilitator Anak Berkebutuhan Khusus, Timotius Suwarsito menyatakan, masa awal pendidikan anak autisme sangat mempengaruhi tahapan tumbuh kembang selanjutnya.

“Orang tua perlu memahami tentangnya pentingnya penerapan kedisiplinan pada anak. Karena dengan terbiasa disiplin, akan memudahkan anak untuk mengembangkan minat bakat mereka. Anak akan bisa lebih konsisten dalam menjalani program pendidikan lainnya,” kata Toto dalam acara Pendidikan ABK, Kamis (9/9/2021).

Masa pandemi ini, lanjutnya, merupakan suatu keuntungan dalam hal pendidikan. Karena akan menjadi masa penegasan akan peranan orang tua dalam membimbing anak mereka.

“Peran pembimbing atau fasilitator itu hanya sekitar 10 persen saja dalam penggalian dan pengembangan minat dan bakat anak. Sisanya yang 90 persen itu ada di tangan orang tua,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembimbing hanya hadir sekitar 2 jam dan hanya 2 atau 3 kali dalam seminggu. Sementara orang tua, selalu ada sekitar 20 jam dalam kehidupan anak.

“Pada anak autisme, ada kecenderungan anak membutuhkan pembimbing yang membuat anak bisa keluar dari zona nyamannya dan mulai memberi perhatian pada dunia luar dan aware akan lingkungan sekitarnya. Saat perhatian dan fokus anak autisme sudah lebih baik maka anak akan bisa mengembangkan kemampuannya,” ujarnya lagi.

Ia mendorong orang tua harus terus mengembangkan diri sesuai dengan minat dan bakat anak.

“Kalau anak suka melukis, orang tua update pengetahuan tentang melukis. Jadi interaksi anak dan orangtua dapat terbangun. Pandemi atau tidak, tidak ada bedanya. Tetap peran orangtua adalah sebagai pendamping utama anak. Pengajar atau pendidik itu hanya yang memfasilitasi saja,” tandas Toto.

Menambahkan, Guru PJOK Adaptif SLB C Dian Grahita Kemayoran Jakarta, Harison Sirait menegaskan pentingnya kesabaran orang tua dan pembimbing anak autisme saat anak menjalankan aktivitasnya.

“Anak jangan dibebani oleh ekspektasi orang tua. Karena saat tekanan dirasakan oleh anak maka ia akan terbebani. Akhirnya melewati kesempatan anak untuk mengeksplorasi secara luas dan menghilangkan kemampuan anak untuk berprestasi,” kata Haris dalam kesempatan yang sama.

Ia juga menyebutkan orang tua dan pembimbing harus memahami batas kemampuan anak dan memiliki kesabaran yang tanpa batas.

“Jika batas ini tak disadari maka akan muncul kejenuhan pada anak. Tak jarang akhirnya diikuti oleh keengganan anak untuk melanjutkan kegiatan tersebut. Walaupun sebenarnya ia berbakat dalam bidang tersebut,” ucapnya.

Tak lupa, orang tua dan pembimbing juga harus tegas dalam melakukan pengarahan.

“Pentingnya ketegasan dalam membimbing adalah memastikan anak tetap dalam jalurnya. Kepatuhan anak autisme pada tahap awal biasanya sangat kurang. Masuk ke masa remaja, muncul fase egosentrisme pada diri mereka. Hal ini lah yang membutuhkan ketegasan. Disiplin itu juga merupakan hal yang harus dipahami oleh anak autisme sejak dini,” pungkas Direktur Pelatihan Olahraga PP Special Olympic Indonesia ini.

Lihat juga...