Menengok Potensi Ekonomi Sirkular Usaha Berbasis Perikanan di Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Peluang usaha pengolahan hasil tangkap nelayan jadi sumber mata pencaharian ekonomi sirkular warga tepi pantai. Keberlangsungan usaha saling berkaitan menyerap tenaga kerja, peluang usaha pendukung warga Lampung Selatan.

Sirkular ekonomi sektor perikanan tangkap itu terlihat salah satunya di pesisir Bakauheni. Nurpendi, pekerja pada usaha pengawetan ikan dengan cara perebusan, pengeringan di Muara Pilul, Bakauheni menyebutkan, usaha tersebut beroperasi setiap hari. Operasional sektor usaha pengawetan ikan bergantung pada bahan baku tangkapan nelayan.

Mata rantai sektor usaha perikanan sebut Nurpendi saling berkaitan. Mulai dari sarana pengeringan yang diperoleh dari produsen pembuat para para atau laha. Keranjang atau cekeng, tenaga kerja perebusan, pengeringan, penyortiran, bahan baku, sarana dan prasarana produksi menjadi sumber hasil bagi pelaku usaha lain.

“Satu sektor pendukung tidak berjalan akan berimbas produksi pengawetan ikan tidak berjalan maksimal, sehingga diperlukan manajemen pengelolaan berkelanjutan untuk menghasilkan teri kering dan ikan asin hingga bisa sampai ke konsumen,” terang Nurpendi saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (14/9/2021).

Bahan baku dari nelayan dibeli per keranjang atau cekeng mulai Rp280.000 hingga Rp300.000 tergantung jenis. Rata rata sebanyak 5 hingga 7 kuintal jadi bahan baku untuk direbus, dikeringkan.

Penyerapan tenaga kerja sebutnya jadi peluang usaha warga pesisir. Nurpendi bilang upah harian bervariasi menyesuaikan kesepakatan. Mulai Rp75.000 hingga Rp100.000 per hari termasuk tanggungan makan bisa diperoleh.

“Usaha pengolahan ikan teri mengikuti musim hasil tangkapan jadi menyesuaikan kadang banyak juga sedikit,” ulasnya.

Pekerjaan menyortir jadi salah satu penghasilan bagi Suminah. Penyortiran dilakukan untuk memisahkan teri sesuai jenis dan ukuran. Proses perebusan, pengeringan kerap tercampur berbagai jenis ikan termasuk cumi cumi. Penyortiran diakuinya kerap dilakukan sejumlah ibu rumah tangga dengan upah harian. Mendapat upah Rp75.000 hingga Rp100.000 diakuinya cukup menjanjikan.

“Setelah pekerjaan rumah selesai bisa menyortir ikan, hasilnya membantu ekonomi keluarga,” ulasnya.

Penggunaan bambu hitam untuk pembuatan para para bambu atau laha jadi sumber penghasilan bagi Suwarno di Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Selasa (14/9/2021). Foto: Henk Widi

Tenaga kerja sebut Suminah kerap dibutuhkan belasan orang. Terlebih saat ada pesanan dari pengepul, target harus bisa dipenuhi.

Pendukung usaha pengeringan ikan dengan membuat para para, cekeng dilakukan Suwarno. Warga Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang itu mengaku kerap mendapat pesanan bambu. Sejumlah sarana itu dibeli nelayan dan produsen pengawetan ikan teri kering, ikan asin.

Permintaan bambu sebutnya rutin bagi sektor perikanan tangkap. Bambu diperlukan untuk mengganti para para yang telah rusak. Sebagian diganti dengan para para baru untuk pengeringan ikan.

Kebutuhan bambu untuk pendukung sarana produksi sebutnya menjadi sumber ekonomi sirkular. Sebab selama produksi ikan berjalan bambu diperlukan memberi hasil hingga jutaan rupiah.

Lihat juga...