Menikmati Udara Segar dan Air Jernih di Curug Ciomas

Editor: Makmun Hidayat

BOGOR — Walaupun kondisi sedang pandemi, tapi animo masyarakat untuk mengisi akhir minggu di Curug Ciomas tak surut. Kejernihan air dan keasrian alam menjadi daya tarik tersendiri.

Willy salah seorang pengunjung dari Jakarta, menyebutkan perjalanan yang harus ditempuh hanya sekitar 2 jam perjalanan dari pintu tol Cibubur.

“Ini pertama kali ke Curug Ciomas. Banyak yang cerita tentang airnya yang jernih dan udara yang bersih. Karena di sekitar lokasi wisata, pepohonannya tetap tumbuh liar,” kata Willy saat ditemui di Curug Ciomas, Cariu, Jawa Barat, Minggu (5/9/2021).

Curug yang terletak pas di perbatasan Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Karawang ini hanya dipisahkan oleh satu jembatan yang tak begitu besar, yaitu Jembatan Ciomas. Dan panjang aliran air terjun ke jembatan itu sekitar 400 meter.

Salah seorang pengunjung dari Jakarta, Willy (kanan) yang beristirahat setelah turun dari lokasi air terjun, Curug Ciomas, Cariu, Jawa Barat, Minggu (5/9/2021). -Foto Ranny Supusepa

“Penunjuk jalan tidak ada. Hanya kalau kita bertanya pada warga, semua tahu lokasi Curug Ciomas ini. Atau mereka menyebutnya Green Canyon Karawang,” ucapnya.

Jalan yang harus ditempuh, memang tak teralu bagus. Masih banyak lubang di jalanan atau tambalan aspal yang tidak rata. Tapi pemandangan yang ada di sepanjang perjalanan, memang memanjakan mata. Dengan sawah yang membentang, bayangan gunung tinggi menjulang dan pepohonan di kanan kiri jalan.

“Udaranya jauh banget berbeda dengan Jakarta. Matahari memang bersinar tapi tak terasa panas. Karena udaranya sejuk,” ucapnya lagi.

Selain berenang di sungai yang alirannya berasal dari air terjun Ciomas, Green Canyon Karawang ini juga menyediakan kolam renang buatan bersama dengan alat permainan seperti yang ada di waterpark di kota besar.

Ike yang tinggal di Ponorogo Jawa Timur menyebutkan kalau ia sangat menyukai Curug Ciomas ini. “Udaranya segar dan dingin kalau dibandingkan dengan Ponorogo yang panas. Mangkanya pas diajak ke sini, saya sangat menyambut baik. Apalagi katanya ada air terjun dan bendungan,” kata Ike.

Ia menyatakan kalau saja ia membawa pakaian ganti, ia pasti mau mengarungi sungai menuju ke air terjun. “Tapi kan tidak bawa baju ganti. Jadi lihat air terjunnya hanya dari jalan setapak di hutan. Enak udaranya tapi jalan yang menanjaknya itu yang membuat kaki tidak kuat,” ungkapnya.

Walaupun banyak pengunjung yang melakukan loncatan dari bukit batu setinggi 10-12 meter, Ike mengaku tak berani.

“Tidak berani kalau suruh lompat sendiri. Jadi ya cuma lihat aja, pengunjung lain pada lompat. Lagipula memang diingatkan kalau tidak berani, ya tidak usah coba-coba. Dan diingatkan juga katanya tidak boleh berenang sendirian. Harus bareng-bareng,” pungkasnya.

Lihat juga...