Menkes : COVID-19 akan Menjadi Titik Balik Reformasi Sistem Kesehatan Indonesia

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Mikroorganisma penyebab penyakit akan selalu ada di sekitar kita. Untuk menurunkan tingkat kesakitan dan kematian,  dibutuhkan suatu sistem ketahanan kesehatan yang secara menyeluruh.

Masa pandemi ini, dinyatakan sebagai satu momen tepat dalam menata ulang sistem kesehatan Indonesia. Termasuk dalam penanganan semua jenis penyakit yang berkaitan dengan organ pernapasan, seperti TBC.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan, ada tiga tugas dari presiden, yaitu penyelenggaraan vaksinasi, mengatasi pandemi COVID-19 dan reformasi sistem kesehatan Indonesia.

“Penanganan TBC ini menjadi bagian dari reformasi sistem kesehatan. Terjadinya pandemi COVID-19 ini, akan menjadi peluang bagi Indonesia untuk melakukan reformasi dalam bidang kesehatan secara signifikan,” kata Budi dalam acara kesehatan yang diikuti Cendana News, Jumat (10/9/2021).

Ia memaparkan, langkah yang diambil meliputi reformasi primary care, secondary care, sistem pertahanan kesehatan, sistem anggaran kesehatan, sumber daya kesehatan dan teknologi kesehatan baik informasi maupun bioteknologi.

“Kita harus bisa mereplikasi sistem teknologi untuk membangun ekosistem sistem teknologi kesehatan. Karena hal ini sangat dibutuhkan,” ucapnya.

Kondisi TBC ini tak berbeda jauh dengan COVID 19. Bahkan bisa disebutkan bahwa fatality rate-nya lebih tinggi.

“Sayangnya, TBC ini kan hanya tinggi di India dan Indonesia. Sehingga penanganannya tidak bisa seperti penanganan COVID 19. Kalau saja, penanganan dan perhatiannya bisa seperti COVID 19, mungkin bisa lebih cepat selesai,” ucapnya.

Ia menyebutkan apa yang sudah dilakukan pada COVID 19 bisa diaplikasikan kepada penanganan TBC.

“Yang harus dilakukan adalah fokus pada pasiennya. Testing dan tracing TBC itu sangat rendah. Kalau di COVID 19 kita tahu tiap harinya, tapi TBC kita estimasi per tahun. Harus ada perubahan,” ucapnya.

Dengan memperkuat sistem testing dan tracing TBC, ia menyebutkan akan menghindari paparan yang lebih luas.

“Yang kerap terjadi, satu orang terkena TBC tapi tidak atau telat ketahuan, akhirnya menyebabkan satu keluarga kena,” kata Budi.

Plt. Direktur Utama RSUP, dr. Mohammad Syahril, SpP, MPH, menyatakan ada empat penyakit saluran pernapasan yang menjadi penyebab kematian di Indonesia. Yaitu tuberculosis, penyakit saluran pernapasan akut, paru kronis dan kanker paru.

“Dibutuhkan suatu langkah konkrit dari seluruh pihak terkait untuk dapat membangun kesehatan respirasi di Indonesia. Bukan hanya dokter paru, tapi seluruh komponen medis multi sektor,” kata Syahril

Ia menyatakan, kasus respirasi tak bisa hanya ditangani oleh spesialis paru saja.

“Karena saling berkaitan semua. Sehingga sinergi dan kolaborasi dalam bentuk pelayanan, penelitian hingga pengkajian akan menjadi salah satu cara untuk menanggulangi penyakit paru, khususnya menuju eliminasi tuberculosis 2030,” pungkasnya.

Lihat juga...