Minyak Naik ke Tertinggi Enam Minggu Akibat Produksi AS Masih Lambat

NEW YORK — Harga minyak naik ke level tertinggi enam minggu pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa pagi WIB), karena produksi AS masih lambat untuk kembali normal dua minggu setelah Badai Ida menghantam Pesisir Teluk dan kekhawatiran badai lain dapat mempengaruhi produksi di Texas minggu ini.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November terangkat 59 sen atau 0,8 persen, menjadi menetap di 73,51 dolar AS per barel, merupakan penutupan tertinggi sejak 30 Juli.

Sementara itu harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober bertambah 73 sen atau 1,1 persen, menjadi berakhir di 70,45 dolar AS per barel, merupakan penutupan tertinggi sejak 3 Agustus.

Kenaikan harga minyak terjadi meskipun Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas perkiraan permintaan minyak dunia untuk kuartal terakhir 2021 karena varian Delta Virus Corona.

“Dampak Badai Ida berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan pasar dan karena beberapa kapasitas produksi minyak masih ditutup minggu ini, harga-harga naik karena pasokan belum dipulihkan dan sehingga tidak mencapai kilang-kilang yang telah memulai kembali operasi lebih cepat daripada para produsen,” kata Analis Pasar Minyak Rystad Energy, Nishant Bhushan.

Gangguan lebih lanjut dari cuaca buruk yang mungkin sudah dekat, dengan Pusat Badai Nasional AS memproyeksikan Badai Tropis Nicholas akan menghantam sepanjang pantai Texas Selatan pada Senin waktu setempat dan mendarat di dekat Corpus Christi malam hari.

Royal Dutch Shell mulai mengevakuasi staf dari anjungan minyak Teluk Meksiko AS dan perusahaan-perusahaan lain mulai bersiap menghadapi angin topan.

Meskipun OPEC mengatakan pemulihan permintaan minyak lebih lanjut akan tertunda hingga tahun depan ketika konsumsi akan melebihi tingkat pra-pandemi, analis mencatat OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, masih meningkatkan produksi.

“Meskipun (ada) risiko jangka pendek terhadap prospek permintaan, OPEC+ terus meningkatkan produksinya sebesar 400.000 barel per hari setiap bulan, sejalan dengan apa yang disepakati pada Juli,” kata Craig Erlam,  Analis Pasar Senior, Inggris & EMEA di OANDA.

Selain perkiraan permintaan OPEC, faktor bearish lainnya membebani kenaikan harga minyak pada Senin (13/9/2021), termasuk kenaikan produksi minyak serpih AS, potensi peningkatan pasokan dari rencana pelepasan minyak dari cadangan strategis di Amerika Serikat dan China, serta kemungkinan Iran bisa lebih dekat menjual minyak ke dunia lagi.

Produksi minyak AS dari tujuh formasi serpih utama diperkirakan akan meningkat sekitar 66.000 barel per hari pada Oktober menjadi 8,1 juta barel per hari, tertinggi sejak April 2020, menurut laporan produktivitas pengeboran bulanan Badan Informasi Energi.

Para pedagang mencatat rencana pelepasan minyak dari cadangan strategis China dapat meningkatkan pasokan yang tersedia di konsumen minyak terbesar kedua di dunia itu.

Pemerintah AS setuju untuk menjual minyak mentah dari cadangan darurat negara itu kepada delapan perusahaan termasuk Exxon Mobil, Chevron dan Valero, di bawah lelang yang dijadwalkan untuk mengumpulkan uang buat anggaran federal.

Harapan pembicaraan baru tentang kesepakatan nuklir yang lebih luas antara Iran dan Barat muncul setelah pengawas atom PBB mencapai kesepakatan dengan Iran pada Minggu (12/9/2021) tentang pelayanan peralatan pemantauan yang terlambat agar tetap berjalan. [Ant]

Lihat juga...