Nasib Malang Zainullah, Bocah yang Tidak Bisa Mengenyam Bangku Pendidikan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SITUBONDO — Zainullah (9), seorang bocah di Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa, Situbondo hanya dapat melihat anak seusianya mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Hal tersebut dikarenakan kondisi kesehatan dan keuangan keluarga yang tidak memungkinkan.

Ibu dari Zainullah, Sumiati warga Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa, Situbondo mengaku, keinginan anaknya untuk menempuh dunia pendidikan terpaksa tidak dapat direalisasikan karena terkendala anaknya yang tidak bisa berjalan, serta gerak tangannya yang kaku. Selain itu, faktor ekonomi yang serba pas-pasan juga membuat dirinya tidak mampu memberikan fasilitas yang mendukung.

“Keinginan anak saya untuk sekolah terpaksa saya urungkan. Sebab, secara ekonomi saya tidak mampu untuk membiayai,” ujar Sumiati kepada Cendana News, Kamis(16/9/21).

Sumiati mengatakan, dirinya merupakan seorang janda yang tinggal di rumah sederhana, bersama ibu dan anaknya. Suaminya sudah meninggal dunia sejak sang anak masih berada dalam kandungan. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk membiayai hidup anak dan ibunya yang sudah rentan seorang diri.

“Pekerjaan saya setiap harinya sebagai buruh kasar. Penghasilan yang didapatkan sebesar Rp30.000, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, itu pun kalau ada orang yang datang minta tolong mengerjakan apa saja yang sekiranya bisa saya lakukan,” ucapnya.

Sumiati mengaku, keinginan anaknya untuk menempuh dunia pendidikan, kerap kali sering disampaikan kepada dirinya, namun ia mengaku kesulitan dalam mewujudkannya. Ia hanya bisa memberikan pendidikan agama, sebab, lebih mudah dilakukan.

“Selesai sholat maghrib, anak saya ajari baca Al Qur’an. Alhamdulillah, saat ini ngajinya sudah lancar. Penerapan ilmu agama, bagi saya lebih mudah untuk diberikan. Sedangkan untuk jenjang pendidikan di sekolah, saya belum mampu membiayai,” ungkapnya.

Menurut keterangannya, akses jalan menuju tempat sekolah juga cukup jauh. Jarak yang harus ia tempuh sejauh 5 Km, sehingga banyak kendala.

Secara terpisah, Rukmina warga sekitar mengatakan, jenjang sekolah PAUD dan TK letak lokasinya cukup jauh. Warga harus menuju desa lain.

“Selain jarak yang cukup jauh, bagi orang tua yang bekerja sebagai buruh kasar akan tebatas oleh waktu. Di lain sisi, aktivitas anak yang harus menempuh pendidikan dengan sistem daring, juga terbatas oleh fasilitas yang tidak mumpuni,” ucapnya.

Lihat juga...