Nelayan di Ende Keluhkan Rendahnya Harga Jual Gurita

Editor: Koko Triarko

ENDE – Harga jual gurita hasil tangkapan nelayan di Arubara, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan, dan di desa persiapan Maurongga, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur,  masih minim.

“Nelayan mengeluhkan harga jual gurita di pabrik yang berada di Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, masih terlalu rendah,” kata Pius Jodho, pendamping nelayan gurita Yayasan Tananua Flores saat dihubungi, Rabu (1/9/2021).

Pius menyebutkan, harga jual gurita pada 2019 saat awal pihaknya masuk melakukan pendampingan nelayan, masih berada di kisaran Rp40 ribu per kilogram.

Staf Yayasan Tananua Flores, NTT, Pius Jodho, pendamping nelayan gurita saat ditemui di Arubara, Kelurahan Tetandara, NTT, Rabu (16/9/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Namun pada 2020, harga jual gurita turun drastis menjadi Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram, hingga di 2021 kisaran harganya pun Rp20 ribu per kilogram.

“Nelayan menganggap harga jual ini terlalu murah, pihak penampung membeli gurita dengan harga di bawah harga pabrik,” ujarnya.

Pius mengatakan, nelayan mengharapkan agar harga gurita bisa meningkat, apalagi di saat pandemi Covid-19, nelayan mengalami krisis keuangan akibat penampung tidak membeli gurita dalam jumlah banyak.

Selain itu, sambungnya, nelayan juga tidak mengetahui kualitas gurita yang diinginkan pihak perusahaan, dan harga gurita sesuai grade atau tingkatannya.

Kondisi ini, kata dia enjadikan nelayan memilih menjual gurita di pasar tradisional maupun menjualnya di pinggir jalan raya trans Flores.

“Nelayan mengalami kesulitan karena harga gurita tidak pasti dan masih terlalu rendah. Padahal, belum banyak nelayan di Flores yang secara khusus memancing gurita,” ungkapnya.

Pius menyebutkan, masih ada nelayan yang menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, seperti melakukan pemboman ikan di daerah pesisir pantai.

Selain itu, sambungnya, masih terbatasnya sarana alat tangkap yang digunakan oleh nelayan seperti perahu dan kesadaran nelayan dalam menjaga ekosistem laut, masih sangat rendah.

“Masih terbatasnya sarana perikanan lainnya, misalnya tempat pelelangan ikan, pabrik es, perusahan pengolahan hasil tangkapan dan gudang pembekuan, menjadi masalah yang dialami nelayan gurita,” ungkapnya.

Sementara itu, Iksan Ahmad, nelayan pemacing gurita asal Arubara, mengakui para nelayan lebih memilih memancing gurita dengan berat di atas satu kilogram.

Iksan mengaku penjualan gurita ke pedagang pengumpul di desanya selama ini dengan sistem timbang, dan dibayar per kilogram sesuai harga yang lebih rendah dari pabrik.

“Makin berat gurita, maka harganya makin tinggi juga. Hal inilah yang memotivasi nelayan untuk tidak menangkap gurita kecil yang beratnya di bawah setengah kilogram,” ucapnya.

Iksan menyebutkan, nelayan membiarkan gurita bertumbuh lebih besar baru kemudian ditangkap dengan menggunakan alat tangkap yang lebih ramah lingkungan.

Ia bersyukur mendapat pendampingan dari Yayasan Tananua Flores, sehingga nelayan bisa menjaga keseimbangan hasil tangkapan karena mengetahui masa perkembangbiakan gurita.

Lihat juga...