Olah Kopra Putih di Flores Timur Lebih Menjanjikan

Editor: Makmun Hidayat

LARANTUKA — Petani kelapa di Pulau Flores maupun berbagai wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama ini terbiasa mengolah kelapa menjadi kopra hitam yang dijual kepada para pengepul.

“Petani kita sudah harus beralih mengolah kopra putih agar bisa meraih kesejahteraan,” kata Rikardus Umbu, pemilik usaha pengolahan kopra putih di Weri, Kota Larantuka, Flores Timur, saat dihubungi, Selasa (28/9/2021).

Icad sapaannya menjelaskan, harga kopra putih dibeli penampung dari tangan petani seharga Rp8 ribu per kilogram dan bisa naik bahkan turun. Bahkan sebutnya, harganya pernah mencapai angka Rp5 ribu per kilogramnya sehingga membuat petani tidak mau mengolah kelapa menjadi kopra.

Menurutnya harga kopra putih satu kilogramnya minimal Rp13 ribu dan cenderung stabil bahkan meningkat sehingga lebih menguntungkan bagi para petani.

Pemilik usaha pengolahan kopra putih, Rikardus Umbu saat ditemui di tempat usahanya, Sabtu (25/9/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Harga kopra putih dalam sekala satu ton bisa mencapai Rp20 juta.Proses pengolahannya pun lebih mudah dan sabuk serta tempurung kelapanya pun bisa dijual,” tuturnya.

Icad menyebutkan, hampir 75 persen proses pembuatan kopra putih sama dengan kopra hitam  bedanya pada proses pengeringan  dan pengasapan.

Ia menjelaskan, kopra asalan atau kopra hitam menggunakan pengasapan atau dijemur di bawah terik matahari sementara kopra putih menggunakan green house atau rumah produksi dan pengasapan  sulfur.

“Bagi yang mau mengubah sistem pengolahan menjadi pengolahan kopra putih kami menyediakan  pelatihan bagi kelompok tani secara gratis di sentra pengolahan kopra putih di Kelurahan Weri, Larantuka,” ujarnya.

Icad mengakui, dirinya siap bekerja sama dengan desa dan BUMDes serta juga bekerja sama dalam produksi, distribisi dan marketing kopra putih.

Sementara itu Marianus Lein, seorang anak muda di Flores Timur saat ditanyai mengakui dirinya sudah lama bergelut dengan kelapa dan produk turunannya namun masih terkendala pemasaran.

Marianus menyebutkan, dengan mengolah kopra putih akan membuat petani bisa meraup pendapatan yang lebih besar bukan saja dari hasil kopranya saja namun dari sabut dan tempurung yang bisa diolah dan dieskpor.

“Saya melihat proses pengolahan kopra putih ini lebih mudah dan tidak membutuhkan proses pengasapan serta penjemuran. Proses produksi hingga menjadi kopra putih pun hanya tiga hari saja,” ucapnya.

Lihat juga...