Pandemi, Belum Ada Kunjungan Wisatawan ke Batu Roti

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Semenjak adanya pandemi Covid-19 yang melanda, membuat kunjungan wisatawan ke destinasi Batu Roti, Desa Lewotobi, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT) belum ada lagi.

“Memang sejak adanya pandemi Covid-19 kunjungan ke destinasi wisata Batu Roti belum ada lagi,” kata Kepala Desa Lewotobi, Kabupaten Flores Timur, NTT, Tarsisius Buto Muda saat dihubungi, Minggu (12/9/2021).

Kepala Desa Lewotobi, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Sikka, NTT, Tarsisius Buto Muda, saat ditemui di desanya, Sabtu (28/8/2021). Foto: Ebed de Rosary

Asis sapaannya mengatakan, destinasi wisata ini juga belum ditata dan dikelola namun ketika ada yang berwisata ke tempat tersebut dan memuatnya di media sosial, membuat banyak wisatawan datang berkunjung.

Ia jelaskan, memang tempatnya berada di tepi pantai dan bebatuannya bersusun sehingga dinamakan batu roti. Destinasi ini hampir mirip dengan Kelaba Maja di Sabu Raijua yang sudah terkenal.

“Kami belum melakukan penataan sebab biasanya harus ada seremonial secara adat terlebih dahulu sebelum dipromosikan menjadi tempat wisata. Selama ini belum ada yang berkunjung ke tempat ini,” ucapnya.

Asis mengakui, bila hendak dijadikan destinasi wisata, maka pihaknya harus membicarakan terlebih dahulu dengan ketua adat agar bisa dibuat ritual adat sebelum ditata.

Dirinya beralasan, ritual adat digelar agar wisatawan yang datang berkunjung tidak mengalami kecelakaan mengingat bebatuannya licin dan tempat tersebut selama ini tidak dikunjungi orang.

“Mungkin karena selama ini tidak dikunjungi orang sebelum tahun 2019 lalu sehingga banyak yang takut ke tempat ini. Bila dibuat ritual adat maka mungkin bisa dijadikan tempat wisata namun ada pantangan yang harus ditaati wisatawan,” ucapnya.

Sementara itu, Rofin Muda lelaki asal Lewotobi, membenarkan memang tempat tersebut indah dan bisa dijadikan destinasi wisata, namun harus dibuat ritual adat terlebih dahulu.

Rofin beralasan, masyarakat di desa masih kental dengan adat dan budaya. Setiap tempat ada yang dikeramatkan sehingga harus disampaikan dahulu dengan pemilik lahan dan ketua adat.

“Untuk menjadikannya sebuah destinasi wisata memang harus dibicarakan dahulu dengan ketua adat. Takutnya tempat tersebut angker dan ada pantangan yang harus ditaati selama berkunjung,” ungkapnya.

Rofin menambahkan, biasanya di tempat-tempat yang selama ini tidak pernah dikunjungi orang, maka wisatawan yang datang harus didampingi pemandu lokal atau ketua adat.

Lihat juga...