Pandemi, Pelaku UMKM di Lebak Meningkat

LEBAK  – Jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Lebak, Banten, tahun 2020 meningkat di tengah pandemi COVID-19 sehingga menyumbangkan pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal.

“Tahun 2020 jumlah pelaku UMKM meningkat hingga 56.638 unit dibandingkan tahun sebelumnya 2019 sebanyak 50.149 unit, ” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Yudawati di Lebak, Jumat.

Peningkatan pelaku UMKM itu dipastikan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat menjadi lebih baik.

Untuk membuat UMKM tetap beraktivitas, Pemerintah daerah terus mengoptimalkan pembinaan, pelatihan dan peningkatan kualitas agar pelaku UMKM berkembang dan bersaing pasar.

Produksi UMKM Kabupaten Lebak juga banyak yang menembus pasar domestik hingga mancanegara.

Bahkan, belum lama ini Presiden Joko Widodo meluncurkan ekspor, termasuk di antaranya produk gula semut dari pelaku UMKM Kabupaten Lebak.

“Meningkatnya pelaku UMKM itu, karena banyak klaster-klaster usaha masyarakat tumbuh dan berkembang dengan didukung bahan baku melimpah, ” katanya menjelaskan.

Saat ini, pelaku UMKM di Kabupaten Lebak bergerak pada bidang usaha industri rumahan (home industry), seperti kerajinan bambu, dompet, tas, kerajinan tangan, logam, batik, konveksi, krey sawit, pande besi, dan suvenir.

Selain itu juga produk aneka makanan olahan, hasil produksi pertanian, dan perkebunan dan perikanan.

Produk UMKM masyarakat Badui juga berkembang dengan memproduksi kain tenun, batik, suvenir dan tas koja.

“Kami mengapresiasi pelaku UMKM itu meningkat,” katanya menjelaskan.

Ketua Paguyuban Perajin Krey Kabupaten Lebak Toto (55) mengatakan pihaknya merintis usaha kerajinan krey sawit itu sejak 10 tahun lalu dan kini berkembang sehubungan tingginya permintaan pasar, bahkan produksinya dipasok ke sejumlah daerah di Provinsi Banten, Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Selama ini, permintaan krey yang terbuat dari pelebah sawit ini cenderung meningkat karena beberapa bulan terakhir curah hujan meningkat.

Biasanya, krey sawit itu digunakan masyarakat untuk perlindungan ruangan agar tidak terkena air hujan juga kepanasan dari terik matahari.

Berkembangnya perajin krey sawit itu tentu dapat menggulirkan pendapatan ekonomi masyarakat, sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik dan sejahtera.

“Kami sendiri memasok krey sawit sebanyak 10.000 lembar dan dijual ke agen Rp25.000/lembar, sehingga pendapatan mencapai Rp250 juta per pekan,” katanya menjelaskan. (Ant)

Lihat juga...