Pandemi Tingkatkan Jumlah Usaha Jasa Pengiriman Hingga 40 Persen

Ilustrasi Armada pengiriman barang - foto Ant

JAKARTA – Arus pengiriman barang di Tanah Air mengalami peningkatan hingga 40 persen, dampak meningkatnya industri logistik dalam dua tahun terakhir atau selama pandemi COVID-19.

Pelaku industri logistik, Arman Solich menyatakan, kondisi tersebut sebagai dampak perbaikan infrastruktur yang dilakukan pemerintah dalam dekade terakhir. Hal itu berdampak positif terhadap berbagai industri, termasuk industri logistik. “Meski demikian, bukan berarti industri logistik bebas dari tantangan,” ujar Founder & CEO AGROS tersebut, Sabtu (25/9/2021).

Selain kebutuhan pendistribusian produk yang meningkat, permintaan armada berat untuk mengangkut raw material atau bahan baku yang dibutuhkan di berbagai usaha juga ikut naik. Sehingga banyak pemain baru bermunculan di sektor usaha tersebut.

Namun, tren menggeliatnya industri logistik raw material ini belum dibarengi dengan upaya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang sudah ada sejak sebelumnya. Mulai dari yang klasik, seperti rumitnya pengelolaan armada, transparansi dan standarisasi biaya, hingga kebutuhan akan penyederhanaan sistem transaksi dan kemudahan pengawasan yang lahir di era digital seperti sekarang.

“Melihat potensi pertumbuhan industri logistik yang masih besar di masa mendatang dengan berbagai tantangannya, kami ingin menjawab satu per satu tantangan yang ada. Kami menyiapkan segala kebutuhan dari hulu ke hilir agar semua pihak dalam industri ini dapat menikmati benefit-nya,” katanya.

Arman menyatakan, setelah berbagai pengamatan dan riset yang dilakukan, sebagian besar persoalan yang muncul masih karena pelaku usaha pengiriman bertahan menggunakan sistem konvensional dan tidak terintegrasi.

Persoalan yang muncul seperti, shipper kesulitan menemukan armada untuk mengangkut barang, transporter yang bingung ke sana ke mari mencari muatan, kebutuhan akan tenaga pengemudi terpercaya dan berpengalaman, sistem pencatatan tagihan tidak transparan, administrasi surat jalan berantakan. Serta kebutuhan solusi cepat terhadap masalah kerusakan kendaraan di jalan.

Permasalahan tersebut memerlukan solusi, dengan memanfaatkan teknologi informasi. Sistem layanan terpadu satu pintu (one-stop service), berbasis teknologi yang terintegrasi untuk mengoptimalkan layanan jasa logistik muatan berat (raw material). Arman menyebut, sejak muncul di awal 2020 hingga saat ini, pihaknya berhasil menyelesaikan 102.306 transaksi logistik, dengan total angkut mencapai 2.183.156 tonase. (Ant)

Lihat juga...