Pasokan Air Terbatas, Sumur Bor Dukung Pertanian dan Rehabilitasi Lingkungan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Curah hujan tidak merata di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebabkan sebagian wilayah kesulitan air bersih. Salah satu upaya warga setempat dalam memenuhi kebutuhan yakni dengan memanfaatkan sumur bor. 

Sutejo, warga di Desa Banjarmasin menyebutkan, meski berada dekat sungai Way Tuba Mati, air yang tercemar oleh sampah tidak bisa digunakan. Salah satu solusinya yakni memanfaatkan sumur bor untuk air bersih, kebutuhan pertanian.

Fasilitas sumur bor yang dibuat secara swadaya, dan bantuan pemerintah menjadi pemenuhan kebutuhan air bersih, menyiram tanaman pangan. Manfaat berkelanjutan dimaksimalkan untuk kelestarian lingkungan.

Tanda penurunan permukaan air tanah sebut Sutejo saat membuat sumur gali. Semula di wilayah itu sumur gali bisa mendapatkan sumber air sedalam sepuluh meter. Setelah sejumlah pohon ditebang jenis bayur, medang, pule permukaan air tanah menurun.

“Lahan yang semula memiliki pohon mulai berkurang sehingga perlu dilakukan penanaman ulang agar bisa menyerap air saat penghujan, dampaknya sumur gali kembali naik meski sumur bor tetap bisa digunakan sebagai cadangan kala kemarau,” terang Sutejo saat ditemui Cendana News, Rabu (8/9/2021).

Bagi petani sumur bor bisa menjadi penopang untuk kelestarian lingkungan. Rehabilitasi sejumlah lahan dengan pohon yang telah ditebang bisa diperbaiki dengan tanaman baru. Jenis pohon alpukat, durian, jengkol, petai genjah bertajuk rendah bisa jadi pilihan dan mampu menyerap air untuk sumur.

Mustopa, salah satu petani di Desa Pasuruan menyebut kebutuhan akan sumur bor jadi penanda menurunnya pasokan air. Lahan pertanian di hamparan kaki Gunung Rajabasa sebutnya bahkan sebagian mengering.

“Saat air mudah diperoleh, kesempatan menanam pohon kembali digencarkan apalagi di sekitar tepian jalan tol,” ulasnya.

Alih fungsi lahan perbukitan jadi lokasi penanaman komoditas pertanian juga diakui Made. Warga Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang itu mengaku air mulai sulit diperoleh jelang kemarau. Sebagian warga bahkan mulai membuat sumur bor dengan kedalaman sekitar 70 meter.

“Kesadaran masyarakat menjaga pohon pada perbukitan menjadi salah satu cara menjaga pasokan air,” ulasnya.

Petani di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan melakukan proses pemeriksaan hama ulat pada tanaman jagung, Rabu (8/9/2021). Foto: Henk Widi

Petani yang masih bisa menanam jagung sebutnya dominan berada dekat aliran sungai. Sejumlah petani memilih membiarkan lahan tidak ditanami jagung imbas kekurangan air.

Made menyebut air yang masih bisa dimanfaatkan bisa digunakan untuk menanam berbagai pohon produktif pada salah satu lahan sebagai peresap air.

Berkurangnya pasokan air dialami oleh sebagian petani berimbas petak sawah kering. Sebagian petani yang tidak memiliki fasilitas sumur bor memilih menyewa selang untuk menyalurkan air pada lahan sawah untuk pengairan tanaman padi.

Lihat juga...