Pemahaman Masyarakat Jadi Tantangan Pengembangan Wisata Halal

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Strategi dan promosi wisata halal harus difokuskan pada pemahaman masyarakat tentang wisata tersebut dan layanan tambahan harus memadai dari pelaku wisatanya.

Pengamat pariwisata, Ronald Rulindo mengatakan, wisata halal harus dipahami sebagai wisata yang memudahkan umat Islam untuk berwisata. Sebagai contoh, mereka mendapat kemudahan dalam mengakses tempat peribadatan ketika berwisata ke destinasi wisata tersebut.

Terpenting lagi, kata dia, perlu adanya sertifikasi yang memastikan suatu produk halal untuk memberikan jaminan. Karena hal ini sebetulnya sangat dibutuhkan bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Ketika umat Islam Indonesia berada di suatu daerah wisata, misalnya kata dia, mereka ingin makan makanan halal, bisa memudahkan mencari masakan Padang. Tetapi tentu bagi turis dari negara Timur Tengah, mereka tidak paham itu.

Di sinilah diperlukan adanya sertifikasi halal. Namun sayangnya tambah dia lagi, ketika rumah makan padang disarankan untuk disertifikasi, merasa tersinggung. Ini karena merasa sudah pasti makanan yang disajikannya itu halal. Inilah menurutnya, yang menjadi tantangan kurangnya pemahaman terhadap pariwisata halal.

“Jadi, tantangan utama untuk memahamkan pariwisata halal datang dari tingkat pemahaman masyarakat. Jangankan bagi non muslim, kita sesama muslim saja masih berbeda pendapat tentang wisata halal. Ini tantangannya,” ujar Ronald, kepada Cendana News saat dihubungi, Minggu (26/9/2021).

Selain itu tambah dia, infrastruktur industri pariwisata halal juga sangat membutuhkan dukungan. Ini juga menjadi tantangan pengembangan wisata halal.

“Karena bukan hanya terkait infrastruktur jalan saja. Tapi juga fasilitas-fasilitas mendasar yang menunjang kebutuhan muslim,” ujar Roland Rulindo, yang merupakan dosen Institut Tazkia.

Dia mencontohkan, wisata halal di kota-kota besar dan pusat perbelanjaan memang tempat ibadahnya sudah bagus. Namun di daerah belum tentu fasilitas itu memadai. Seperti dimungkinkan harus ke masjid, tapi fasilitas toiletnya bermasalah.

Selain itu, tantangan berikutnya adalah kata dia, tentang pengemasan dan strategi promosi. Contohnya, turis-turis Timur Tengah yang berwisata ke Malaysia sangat mudah memperoleh informasi seputar pariwisata.

“Sayangnya di Indonesia dengan wilayah yang sangat luas, akses informasi masih harus dibenahi agar mampu memberikan kenyamanan bagi wisatawan,” tukasnya.

Pembenahan itu baik dengan travel agen maupun pelaku wisatanya, sehingga diharapkan para wisatawan mudah mendapatkan informasi. “Tapi di Indonesia itu pembenahan masih sulit,” imbuhnya.

Pengamat dan ahli strategi pariwisata nasional, Taufan Rahmadi menambahkan, arah strategi dan promosi wisata halal harus difokuskan pada pemahaman layanan tambahan.

“Layanan tambahan ini tidak terbatas untuk wisatawan muslim saja.Tapi juga bagi wisatawan non-muslim yang membutuhkan layanan wisata halal ketika mereka berlibur,” ujar Taufan, saat dihubungi Minggu (26/9/2021).

Menurutnya, pariwisata halal itu sejatinya sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan.

“Wisata halal bukanlah sebuah Islamisasi atau jilbabisasi dari sebuah destinasi. Perlu dipahami esensi dari wisata halal itu termasuk sehat dan bersih. Berbicara murni layanan wisatawan halal lifestyle atau gaya hidup,” ujarnya.

Terpenting lagi menurutnya, wisata halal tidak akan membunuh wisata konvensional yang sudah ada. “Jadi, perlu digarisbawahi bahwa pariwisata halal adalah tentang gaya hidup,” tegasnya.

Lihat juga...