Pemahaman Masyarakat Jadi Tantangan Pengembangan Wisata Halal

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Selain itu, tantangan berikutnya adalah kata dia, tentang pengemasan dan strategi promosi. Contohnya, turis-turis Timur Tengah yang berwisata ke Malaysia sangat mudah memperoleh informasi seputar pariwisata.

“Sayangnya di Indonesia dengan wilayah yang sangat luas, akses informasi masih harus dibenahi agar mampu memberikan kenyamanan bagi wisatawan,” tukasnya.

Pembenahan itu baik dengan travel agen maupun pelaku wisatanya, sehingga diharapkan para wisatawan mudah mendapatkan informasi. “Tapi di Indonesia itu pembenahan masih sulit,” imbuhnya.

Pengamat dan ahli strategi pariwisata nasional, Taufan Rahmadi menambahkan, arah strategi dan promosi wisata halal harus difokuskan pada pemahaman layanan tambahan.

“Layanan tambahan ini tidak terbatas untuk wisatawan muslim saja.Tapi juga bagi wisatawan non-muslim yang membutuhkan layanan wisata halal ketika mereka berlibur,” ujar Taufan, saat dihubungi Minggu (26/9/2021).

Menurutnya, pariwisata halal itu sejatinya sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan.

“Wisata halal bukanlah sebuah Islamisasi atau jilbabisasi dari sebuah destinasi. Perlu dipahami esensi dari wisata halal itu termasuk sehat dan bersih. Berbicara murni layanan wisatawan halal lifestyle atau gaya hidup,” ujarnya.

Terpenting lagi menurutnya, wisata halal tidak akan membunuh wisata konvensional yang sudah ada. “Jadi, perlu digarisbawahi bahwa pariwisata halal adalah tentang gaya hidup,” tegasnya.

Lihat juga...