Pembangunan Jembatan Palopo Sulsel Masuki Tahap Akhir

JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga, tengah menyelesaikan tahap akhir konstruksi Jembatan Palopo di Provinsi Sulawesi Selatan.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, mengatakan pembangunan jalan dan jembatan memiliki peran penting sebagai tulang punggung pengembangan konektivitas antarwilayah, dalam rangka memperlancar distribusi logistik di Indonesia.

“Konektivitas yang makin lancar akan mengurangi biaya angkut kendaraan logistik dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Menteri Basuki, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (7/9/2021).

Jembatan sepanjang 100 meter itu dibangun secara permanen sebagai upaya pemulihan konektivitas jalan poros utama penghubung Kota Palopo dengan Kabupaten Toraja Utara, pascabencana tanah longsor pada pertengahan 2020.

Jembatan Palopo yang baru dibangun untuk menggantikan jembatan lama yang putus akibat tergerus tanah longsor. Sebelumnya, Ditjen Bina Marga melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sulawesi Selatan telah membangun jembatan gantung yang dapat dilalui kendaraan roda dua, untuk mendukung lalu lintas sementara pascabencana.

“Karena lebar longsor sekitar 60–70 meter, Ditjen Bina Marga memutuskan untuk membangun jembatan di lokasi jalan yang putus agar bila terjadi hujan lebat dan longsor, tidak menutup akses jalan karena longsoran akan melewati kolong jembatan,” ujar Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) II.4 BBPJN Sulawesi Selatan, Wido Kharisma.

Menurut Wido, konstruksi Jembatan Palopo sepanjang 100 meter dan lebar 7 meter menggunakan rangka baja berteknologi Lead Rubber Bearing (LRB), dengan seismic joint yang berguna meredam guncangan saat terjadi gempa. Desain jembatan diperuntukkan bagi kendaraan dengan muatan sumbu terberat (MST) sebesar 10 ton.

“Saat ini progres konstruksi jembatan sudah mencapai 97 persen, dan tinggal perbaikan dan kelengkapan minor saja. Semoga kondisi cuaca mendukung, karena kendala yang dihadapi adalah cuaca ekstrem. Kondisi di sekitar jembatan merupakan tebing-tebing tinggi, sehingga bila hujan lebat rawan terjadi longsor,” kata Wido.

Setelah konstruksi selesai, BBPJN Sulawesi Selatan akan melakukan uji beban terlebih dahulu bersama instansi terkait, karena Jembatan Palopo termasuk dalam kriteria jembatan khusus dengan panjang bentang 100 meter.

Selanjutnya Jembatan Palopo dapat beroperasi untuk memperlancar arus distribusi logistik dan mobilitas masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Kota Palopo dan Kabupaten Toraja Utara. (Ant)

Lihat juga...