Pemkab Permudah Penebusan Pupuk Bersubsidi Petani Gunungkidul

GUNUNGKIDUL — Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mempermudah penebusan pupuk bersubsidi bagi petani yang tidak memiliki kartu tani, bisa menunjukkan dengan Kartu Tanda Penduduk elektorik.

“Pelaksanaan pendistribusian pupuk bersubsidi kepada petani, pemkab telah mengambil kebijakan untuk kemudahan penebusan bagi petani yang tidak harus menggunakan kartu tani cukup fotokopi KTP dan akan disesuaikan pada daftar kelompok tani,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Raharjo Yuwono di Gunungkidul, Selasa (28/9/2021).

Ia mengatakan alokasi pupuk bersubsidi jenis Urea untuk Gunungkidul sebanyak 17.979 ton dengan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) sebanyak 18.610,63 ton dan realisasi saat ini baru 4.067,02 ton. Sementara jenis SP-36 alokasinya 1.421 ton, RDKK 1.880,88 dan baru terealisasi 206,84 ton. Kemudian Pupuk jenis ZA alokasinya sebanyak 687 ton, RDKK 704,27 ton, dengan realisasi sekarang 73,46 ton.

Pupuk jenis NPK alokasinya 8.251 ton dengan RDKK 19.514,46 ton dan tersalurkan 3.400,87 ton. Pupuk organik padat alokasi sebesar 855 ton dengan RDKK 3.454,58 ton dan baru tersalurkan 43,18 ton. Sementara pupuk organik cair alokasi dari pemerintah 2.138 liter dan belum ada penyaluran.

“Kami mengimbau kepada petani segera menebus pupuk sesaui dengaan RDKK yang diajukan,” imbaunya.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Sunaryanta menyatakan dengan ketersediaan pupuk yang sudah semakin baik ini semoga menjadi modal ketengan petani akan kebutuhan pupuk dalam menghadapi musim tanam.

Pada 2021 ini, Pemkab Gunungkidul telah mendapat tambahan alokasi pupuk bersubsidi sebanyak 18 ribu ton urea dan 11 ribu ton pupuk organik. “Yang terpenting bagaimana pupuk ini cepat sampai pada petani,” katanya.

Ketua DPRD Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih berharap sinergi seluruh pihak tak terkecuali bagi distributor untuk menjamin kelancaran distribusi pupuk kepada petani

“Jangan sampai menumpuk-numpuk, yang memicu pada asumsi timbulnya kelangkaan,” kata Endah. (Ant)

Lihat juga...