Pendapatan Minim, Nelayan di Situbondo Jual Perahu

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SITUBONDO – Nelayan di pesisir Panarukan, Situbondo, Jawa Timur, mengaku kesulitan menghasilkan pendapatan setiap harinya. Maka, perahu miliknya terpaksa harus dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Totok, warga Desa Kliensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo, mengatakan, kesulitan para nelayan kali ini tidak bisa melakukan aktivitas mencari ikan. Para nelayan terkendala cuaca, khususnya angin yang  tidak stabil.

“Cuaca angin kencang menyebabkan para nelayan tidak pergi mencari ikan. Sebab, risiko yang terjadi sangat besar,” ujar Totok kepada Cendana News, di Desa Kliensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Selasa (7/9/2021).

Totok mengaku, sebagian nelayan yang memaksakan diri mencari ikan, hampir sebagian besar biaya operasionalnya lebih tinggi dari hasil tangkapan ikan yang didapat.

“Normalnya, para nelayan bisa berhasil menangkap ikan hingga beberapa ton beratnya. Namun, saat ini hanya puluhan kilogram yang berhasil ditangkap,” ucapnya.

Menurut pengakuan Totok,  biaya operasional nelayan satu kali berangkat pulang-pergi untuk menangkap ikan, menghabiskan modal Rp3.000.000 hingga Rp4.000.000. Biaya operasional yang dikeluarkan merupakan kebutuhan wajib agar nelayan bisa menangkap ikan di tengah laut.

“Saat ini, walaupun modal yang dikeluarkan besar, hasil ikan yang didapat minim sekali. Dari hasil ikan yang berhasil ditangkap serta dijual kepada pengepul dan konsumen langsung, hanya bisa menghasilkan uang sebesar Rp2.000.000,” ungkapnya.

Memang, kesulitan dalam mendapatkan ikan di laut juga disebabkan cuaca yang terang di malam hari, selain keadaan angin yang cukup kencang.

“Minimnya penghasilan yang didapat para nelayan, beberapa nelayan terpaksa harus menjual perahu untuk memenuhi kebutuhan hidup serta menutupi biaya utang yang dipinjam sebagai modal nelayan menangkap ikan,” jelasnya.

Agutian, misalnya, salah seorang warga lainnya mengaku, dirinya terpaksa harus menjual perahu untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

“Hampir 20 hari nelayan di sini istirahat di rumah tidak mencari ikan. Sedangkan kebutuhan keluarga setiap hari terus berjalan, serta pinjaman modal berangkat mencari ikan harus segera terbayar. Maka, saya sendiri memilih untuk menjual perahu saya,” ucapnya.

Lihat juga...