Penentuan Angka Terukur Uranium dan Thorium Terkendala Biaya Penambangan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Upaya pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia masih mempertimbangkan Uranium dan Thorium yang hingga saat ini belum dilakukan penambangan untuk menentukan angka sumber daya terukur. Kendalanya, adalah biaya penambangan yang cukup besar.

Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Yarianto S. Budi Susilo menjelaskan sejauh ini, belum ada angka sumber daya terukur Uranium dan Thorium di Indonesia, karena terkendala biaya penambangan, dalam acara HIMNI, Selasa (7/9/2021) – Foto Ranny Supusepa

Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Yarianto S. Budi Susilo menjelaskan, Uranium dan Thorium merupakan salah satu unsur alam berat yang ditemukan dalam bentuk isotop alami U-238, U-235 dan U-234 dengan konsentrasi antara 1,7 ppm hingga 2,7 ppm serta Th-232, Th-234, Th-230 dan Th-228 dengan konsentrasi 7,2 ppm.

“Mayoritas sumber daya radioaktif masih dalam angka potensi. Yang artinya, belum dilakukan eksplorasi sumber daya secara mendalam dan belum menghasilkan angka tereka dan terukur. Alasannya bisa karena anggaran yang besar atau memang belum ada kebutuhan,” kata Yarianto dalam salah satu acara yang diselenggarakan HIMNI, Selasa (7/9/2021).

Di Indonesia sendiri, Uranium dan Thorium paling banyak ditemukan dalam granit, metamorphite dan hasil aktivitas vulkanik, dengan sebaran terbesar terpantau di Kalimantan dan beberapa bagian Sumatera serta beberapa titik di Sulawesi, Maluku dan Papua.

“Untuk eksplorasi Uranium dan Thorium ini membutuhkan upaya yang tidak kecil, baik dari segi sumber daya maupun biaya,” ucapnya.

Ia menyebutkan, karena kurangnya biaya, maka BATAN mengalami kesulitan dalam melakukan penambangan untuk mendapatkan sumber daya terukur.

“Untuk luasan 1 hektar dengan kedalaman 50 meter, dibutuhkan dana sekitar Rp10 miliar. Jadi agak kesulitan memang untuk menghasilkan angka sumber daya terukur. Yang biasa dilakukan di KESDM pun, yang dikeluarkan hanyalah angka sumber daya tereka, lalu dilelang kepada investor yang memiliki kemampuan untuk menambang,” ucapnya lagi.

Salah satu daerah prospek Uranium dan Thorium di Indonesia adalah Mamuju Sulawesi, yang memiliki nilai laju dosis batuan atau tanah berkisar antara 15 hingga 11.264,5 nano Sivert per jam dengan anomali laju dosis sebesar 1.693,587 nano Sivert per jam.

“Dari penelitian dan survei sejak tahun 2013, ditemukan sembilan titik yang memiliki potensi Uranium, Thorium dan LTJ. Yaitu Hulu Sungai Mamuju, Pangasaan, Botteng, Takandeang, Orobatu, Ahu, Taan, Hulu Sungai Ampalas dan Bebangga,” kata Yarianto.

Terkait cadangan Uranium dan Thorium sebagai bahan bakar pembangkit, Ketua Umum Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI) Susilo Widodo menyatakan tak perlu mengkhawatirkan masalah ketersediaan maupun harga bahan bakarnya.

“Yang suka ditanyakan, kita mau bangun PLTN apa punya bahan bakarnya? Apakah kita punya Uranium dan Thorium-nya? Harus diubah mindset masyarakat terkait ketersediaan bahan bakar. Saat mau membangun pembangkit bertenaga nuklir, yang menjadi komponen utama itu bukan bahan bakarnya, tapi teknologinya,” kata Susilo dalam kesempatan yang sama.

Karena, lanjutnya, harga bahan bakar untuk PLTN itu hanya 0,4 sen per Kwh. Sisanya, merupakan biaya dari teknologinya.

“Jadi kalau harga per Kwh nya antara 8 hingga 12 sen, maka sangat kecil komponen untuk bahan bakarnya. Bukan seperti pembangkit listrik batu bara yang membutuhkan batu bara setiap saat,” urainya.

Susilo mengakui dengan tingginya demand akan bahan bakar untuk nuklir, memang harga Uranium mengalami kenaikan. Terakhir, harganya sekitar Rp1 juta rupiah per kilogram.

“Semakin tinggi demand, yang bersamaan dengan komitmen seluruh negara dunia untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, potensi harga Uranium atau Thorium mengalami kenaikan itu ada. Tapi tidak akan mempengaruhi fluktuasi harga bahan bakar jadinya. Karena memang pasar bahan baku ini sangat lambat. Mengganti bahan baku nuklir itu kan bisa 12 bulan sekali dan pemakaiannya juga tidak banyak,” pungkasnya.

Lihat juga...