Pengelola Keluhkan Larangan Anak di Bawah 12 Tahun Masuk Objek Wisata

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Pemerintah DIY mulai memberlakukan ujicoba pembukaan kembali objek wisata di daerahnya pada pekan ini. Terdapat tiga objek wisata yang dibuka kembali secara terbatas, yakni Tebing Breksi di Prambanan, Sleman, Gembira Loka Zoo di kota Yogyakarta, dan Pinussari, di Dlingo, Bantul. 

Sejumlah pengelola objek wisata yang ditunjuk, mengaku sepenuhnya siap untuk menjalankan uji coba tersebut. Meski begitu, mereka menilai terdapat satu syarat ketentuan yang dinilai perlu ditinjau ulang.

Ketua Pokdarwis Objek Wisata Tebing Breksi, Mujimin, mengaku sangat bersyukur pihaknya dipercaya untuk melaksanakan uji coba pembukaan objek wisata secara terbatas. Sejumlah persiapan pun sudah dilakukan, baik itu terkait sarana prasarana pendukung, hingga kesiapan SDM pengelola.

“Kita sepenuhnya siap. Semua sarana prasarana untuk penerapan prokes sudah kita siapkan. Mulai dari penyediaan wastafel dan petunjuk arah/jalur wisata bagi pengunjung, hingga vaksinasi bagi semua UKM maupun petugas pengelola,” katanya, Kamis (16/9/2021).

Ketua Pokdarwis Objek Wisata Tebing Breksi, Mujimin, Kamis (16/9/2021). –Foto: Jatmika H Kusmargana

Mujimin menyebut, untuk bisa masuk ke lokasi objek wisata, setiap pengunjung nantinya wajib memenuhi syarat, yakni memiliki aplikasi Peduli Lindungi dan Visiting Jogja. Untuk memudahkan pengunjung dan meminimalisir kerumunan, pihak pengelola telah menyiapkan tempat screening kode barcode di sejumlah titik.

“Syarat lainnya, setiap pengunjung di bawah usia 12 tahun tidak boleh masuk ke lokasi tempat wisata. Ini yang banyak dipertanyakan teman-teman pengelola lain. Karena praktiknya di lapangan nanti pasti akan sulit,” ungkapnya.

Dengan syarat tersebut, maka nantinya dimungkinkan akan ada anak-anak usia di bawah 12 tahun yang harus diminta putar balik atau menungu di luar lokasi wisata, karena tak diizinkan masuk. Padahal, dalam satu rombongan pengunjung biasanya pasti terdapat anak-anak usia di bawah 12 tahun.

“Tentu aneh dan kasihan jika ada rombongan pengunjung, misalnya satu keluarga, salah satu anaknya tidak boleh masuk ke lokasi wisata. Sehingga mestinya syarat ini perlu ditinjau ulang. Paling tidak selama uji coba ini berlangsung,”ungkapnya.

Meski begitu, Mujimin menegaskan pihaknya tetap akan mematuhi syarat ketentuan yang telah ditetapkan tersebut dalam menjalankan uji coba pembukaan kembali objek wisata secara terbatas di kawasan Tebibg Breksi. Termasuk melarang anak usia di bawah 12 tahun untuk masuk ke lokasi wisata.

Sementara itu, pembukaan kembali objek wisata Tebing Breksi secara terbatas disambut baik semua warga sekitar yang bergerak di sektor pariwisata, termasuk para pelaku UKM seperti pedagang makanan, oleh-oleh dan sebagainya.

Salah seorang pedagang makanan, Sur, mengaku sudah lama menanti objek wisata Tebing Breksi dibuka bagi pengunjung.

“Tentu senang, karena bisa berjualan kembali. Sebab, sudah 3 bulan terakhir ini warung tutup. Tak bisa berjualan. Otomatis, ya tidak punya pemasukan sama sekali,” katanya.

Kawasan wisata Tebing Breksi selama ini memang menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi warga masyarakat sekitar. Tercatat ada 140an warga yang selama ini berkerja sebagai pengelola, serta 60an UKM yang berjualan di sekitar lokasi. Di luar masa pandemi, objek wisata Tebing Breksi bahkan mampu menyumbang PAD Desa hingga Rp100-150juta per bulan. (Ant)

Lihat juga...