Pentingnya Pendidikan Agama Ditanamkan pada Anak Sejak Dini

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Sekumpulan anak-anak terlihat sangat antusias mendengarkan penjelasan cara menulis huruf Arab dengan mudah yang disampaikan guru mengaji di musala Siroojul Muskhlishin.

Salah satunya, Nindi, siswi kelas 5 SD sangat senang bisa mengaji lagi dan belajar menulis Arab.

“Iya baru mengaji lagi ini, saya sudah iqro 6. Ada selingan belajar huruf Arab, salawatan, dan kisah-kisah rasul,” ujar Nindi, kepada Cendana News ditemui di sela-sela belajar mengaji di musala Siroojul Muskhlishin, Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (30/9/2021).

Senada dengan Nindi, adalah Raya siswi kelas 2 SD mengaku senang bisa mengaji lagi bersama teman-teman. “Ya senang bisa belajar agama lagi, ini saya nulis huruf Arab, tapi agak sulit salah terus,” kata Raya.

Haji Bambang Syaifuddin, guru mengaji di musala Siroojul Muskhlishin mengaku senang bisa mengajar ilmu agama kepada anak-anak. Setelah hampir dua tahun pengajian ini ditutup untuk menghindari kerumunan yang bisa berdampak pada penularan Covid-19.

Ketika kebijakan Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 diperlonggar, pengajian anak-anak kembali dibuka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes).

“Alhamdulillah saya bersyukur, ketua musala memperbolehkan pengajian anak-anak ini dibuka lagi. Kita hampir dua tahun tutup sejak pandemi Covid-19, tidak ada pengajian,” ujar Bambang.

Menurutnya, pendidikan agama merupakan bagian yang sangat fundamental dalam pembentukan kepribadian dan akhlak manusia. Karena itu, penguatan pendidikan agama harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak.

“Pendidikan agama menjadi bagian dari ilmu pengetahuan yang tidak bisa diabaikan. Bahkan, pendidikan agama menjadi landasan dalam pendidikan moral setiap generasi,” ujarnya.

Di sisi lain, sebut dia, ketika manusia membangun iman dan takwa, maka sudah pasti tidak dapat terbentuk secara tiba-tiba. Tentu melalui proses pendidikan agama dan mengamalkan ilmunya.

Proses itu berlangsung seumur hidup, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

“Jadi pendidikan agama sangat penting diterapkan sejak dini pada anak, awal pintunya dari keluarga. Berlanjut di sekolah dan di musala belajarnya,” ujar Bambang.

Terlebih pendidikan agama memberikan pengetahuan dan pembentukan sikap, kepribadian, dan keterampilan anak dalam mengamalkan ajaran agama.

“Nah, seperti hari ini belajar nulis huruf Arab. Ini keterampilan tangan mereka dalam menulis. Salah diulang lagi nggak masalah, itu bagus justru nanti jemari tangannya akan lebih luwes,” imbuhnya.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, Bambang akan menjaga semangat anak-anak agar tetap punya minat belajar agama, di saat sekolah umum proses belajarnya masih terbatas.

Maka dari itu, menurutnya, selain mengaji dan belajar nulis huruf Arab, ia juga mengajarkan anak-anak bersalawat, azan, praktik salat dan menceritakan kisah nabi dan rasul.

Diharapkan, gairah anak-anak belajar ilmu agama akan lebih terpacu lagi. “Kan prihatin ada yang lupa huruf Arab, bacanya salah-salah. Ya mungkin karena lama nggak ngaji, jadi semangatnya harus dibangkitkan,” ujar pria kelahiran Jakarta 70 tahun lalu.

Karena menurutnya, pengajian selain membekali karakter anak dan memperkaya ilmu agama mereka, juga semakin penting untuk menjaga semangat anak.

Pengembangan karakter dan keberanian anak juga menjadi perhatian Bambang sehingga dalam setiap acara musala selalu menyertakan anak-anak untuk tampil memeriahkan.

“Seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sebelum pandemi itu yang baca Alquran, salawatan dan bahkan pembawa acaranya ya anak-anak,” jelas ayah empat anak ini.

Pengajian yang diadakan lima hari dalam seminggu ini setiap sorenya Bambang selalu menganjurkan anak-anak untuk mematuhi prokes, seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

“Kalau ada anak yang nggak pakai masker, saya suruh pulang ambil maskernya. Kita berharap semoga wabah corona cepat hilang dan kehidupan kembali normal seperti dulu,” tutupnya.

Lihat juga...