Perempuan Afghanistan Diizinkan Belajar di Perguruan Tinggi dengan Fasilitas Kelas Terpisah

Para pejuang hak perempuan Afganistan dan aktivis sipil melakukan protes menyerukan kepada Taliban untuk meneruskan prestasi mereka dan pendidikan, di depan istana kepresidenan di Kabul, Afganistan, Jumat (3/9/2021) - Foto Ant

KABUL – Perempuan di Afghanistan, diizinkan untuk belajar di perguruan tinggi, karena negara itu berusaha bangkit kembali setelah perang. Namun, dilakukan pemisahan gender dan aturan berpakaian secara Islam diwajibkan.

Menteri Pendidikan Tinggi Taliban, Abdul Baqi Haqqani mengatakan, pemerintah baru Taliban, yang diumumkan pekan lalu, akan mulai membangun negara di atas apa yang ada saat ini. Mereka tidak ingin memutar waktu 20 tahun ke belakang, saat kelompok itu terakhir kali berkuasa. Para siswi akan diajari oleh guru perempuan, jika dimungkinkan, dan ruang kelas akan tetap dipisah dari laki-laki, sesuai syariat Islam.

“Alhamdulillah, kami memiliki banyak guru perempuan. Kami tak akan menghadapi masalah dalam hal ini. Semua upaya akan dilakukan untuk mencari dan menyediakan guru perempuan untuk para siswi,” katanya, Minggu (12/9/2021).

Masalah pendidikan kaum perempuan, menjadi salah satu pertanyaan sentral yang dihadapi Taliban, ketika mereka berusaha untuk meyakinkan dunia bahwa mereka telah berubah. Ketika pertama kali berkuasa di Afghanistan pada 1990-an, Taliban menerapkan aturan keras, dengan melarang perempuan belajar atau bekerja di luar rumah. Para petinggi Taliban mengatakan, perempuan akan diperbolehkan belajar dan bekerja sesuai syariat dan tradisi budaya setempat, namun aturan ketat dalam hal berpakaian akan tetap berlaku.

Haqqani mengatakan, memakai hijab atau jilbab akan diwajibkan bagi semua murid perempuan. Sekelompok mahasiswi berpakaian hitam, yang menutupi kepala hingga kaki, berdemonstrasi di Kabul pada Sabtu (11/9/2021) untuk mendukung aturan berpakaian dan ruang kelas yang terpisah.

Haqqani mengatakan, jika tidak ada guru perempuan, langkah-langkah khusus akan diambil, untuk memastikan adanya pemisahan antara laki-laki dan perempuan. “Jika benar-benar dibutuhkan, laki-laki juga bisa mengajari (perempuan) tapi sesuai syariat, mereka harus dipisahkan dengan tirai,” katanya.

Ruang kelas akan dipasangi partisi untuk membagi siswa dan siswi jika diperlukan, dan pengajaran juga dapat dilakukan lewat streaming atau TV sirkuit tertutup. Ruang kelas yang dipisahkan oleh tirai, sudah banyak terlihat di berbagai universitas sejak pemerintah dukungan Barat jatuh dan Taliban merebut ibu kota Kabul bulan lalu. Haqqani mengatakan, pemisahan gender akan diberlakukan di seluruh Afghanistan. Dan semua materi yang diajarkan di perguruan tinggi juga akan ditinjau dalam beberapa bulan mendatang. (Ant)

Lihat juga...