Perlawanan Mayjen Soeharto & TNI Atas G30S/PKI

SETELAH memperoleh informasi pembunuhan dan penculikan pimpinan TNI AD, Mayor Jenderal Soeharto, sebagai tokoh senior second line TNI AD, segera terpanggil untuk: (1) menemukan pimpinannya, baik yang sudah gugur maupun yang masih hidup; (2) menghindarkan TNI AD dari kelumpuhan, akibat kekosongan pimpinan; dan (3) mempersiapkan tindakan apa yang mesti dilakukan. Ia kemudian mengambil langkah-langkah berikut.

Pemetaan Situasi

Untuk mengetahui situasi secara lebih lengkap, Mayjen Soeharto menghimpun sebanyak mungkin informasi dan melakukan pemetaan situasi untuk kemudian ditelaah bersama-sama perwira Kostrad lainnya. Hasil pemetaan situasi ini dipergunakan untuk menentukan langkah-langkah Kostrad berikutnya. Selain menelaah laporan-laporan masyarakat, ia melakukan telaah terhadap komunike dan menyebar perwira intelijennya untuk menghimpun dan mendalami informasi.

Mencegah Kelumpuhan TNI AD

Untuk mencegah kelumpuhan TNI AD akibat kekosongan kepemimpinan, Mayjen Soeharto menggunakan standing order manakala Men/Pangad berhalangan. Berdasarkan standing order itu, atas persetujuan perwira Kostrad lainnya dan juga Pangdam V/Jaya Umar Wirahadikusumah yang hadir di Kostrad, Mayjen Soeharto mengisi kekosongan pimpinan puncak TNI AD sebagai pimpinan sementara. Langkah ini menggagalkan skenario PKI menjadikan TNI AD layaknya Kereta Api tanpa masinis, untuk kemudian dikendalikan untuk mendukung G30S/PKI.

Penggunaan standing order ini bukanlah rekayasa, karena memperoleh dukungan penuh kalangan internal TNI AD. Brigjen Moeng Parhadimoeljo, mantan Komandan RPKAD yang sedang cuti pendidikan, di tempat terpisah menyarankan Kol. Sarwo Edhi yang sedang kebingungan mencari Jenderal Ahmad Yani, untuk menemui Mayjen Soeharto. Kol. Sarwo Edhi, Komandan RPKAD, memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Jenderal Ahmad Yani. Setelah memperoleh informasi pembunuhan, ia segera dengan sigap bertindak untuk menemukan Jenderal Ahmad Yani. Sesuai kebiasaan atau standing order, Mayjen Soeharto merupakan pengganti Jenderal Ahmad Yani jika berhalangan.

Lihat juga...