Pesona Rumah Semut Raksasa dan Destinasi Wisata Lainnya di Merauke

MERAUKE – Kabupatan Merauke sedang kedatangan tamu-tamu dari seluruh Nusantara ketika wilayah paling timur di Indonesia itu bersolek sebagai salah satu klaster tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021.

Selama kurang lebih dua pekan penyelenggaraan pesta olahraga empat tahunan itu, tak ada salahnya menyempatkan waktu mengeksplorasi calon ibukota Provinsi Papua Selatan yang memiliki sejumlah ikon wisata yang wajib dikunjungi seperti berikut ini:

Monumen Kapsul Waktu Merauke
Monumen yang dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektar di dekat Bandara Mopah itu menjadi ikon baru di kota paling Timur di Indonesia.

Desain arsitektur modern Monumen Kapsul Waktu dirancang oleh arsitek Yori Antara Awal dengan mengadopsi unsur budaya asli Papua dan dapat dilihat saat pesawat mendarat di Merauke.

Bangunan berbentuk tugu tersebut terinspirasi dari menara perang Suku Dani, dengan lima akses masuk bangunan yang merepresentasikan lima suku asli Merauke (Malind, Muyu, Mandobo, Mappi dan Auyu) sebagai penjaga tugu kapsul waktu.

Diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2018, landmark yang bernama lengkap Monumen Kapsul Waktu Impian Indonesia 2015-2085 itu merupakan wadah sejarah berbentuk kapsul tempat menyimpan dokumen yang bertuliskan mimpi-mimpi masyarakat dari tiap provinsi di Indonesia, yang diletakkan sedari tahun 2015 dan akan dibuka lagi nanti pada 2085.

Sunset  dan Susur Pantai Merauke
Melihat matahari tenggelam di Merauke tiada duanya karena kota di ujung timur Nusantara itu memiliki garis pantai yang menghadap ke barat.

Ketika sore hari, daerah pesisir pantai seperti Pantai Imbuti atau Pantai Lampu Satu yang tak jauh dari pusat kota itu selalu ramai dikunjungi masyarakat yang ingin menikmati kecantikan ufuk barat ketika matahari menuju peraduannya di Laut Arafura.

Pantai Lampu Satu di Kampung Buti, Merauke, dengan garis pantainya yang memanjang juga pasir yang begitu halus menjadi salah satu lokasi terbaik untuk menikmati “sunset”.

Dijuluki lampu satu karena di pantai itu berdiri mercusuar yang berlaku sebagai pemandu kapal-kapal yang melintas.

“Paling bagus melihat matahari tenggelam di sini sampai terkikis di ufuk, itu indah sekali,” kata Elo, seorang pemandu setempat.

Pelancong juga bisa melihat kesibukan penduduk Kampung Bahari yang bermata pencaharian nelayan dan juga pengrajin kapal di Pantai Lampu Satu.

Kemudian Pantai Payum yang terletak tak jauh dari kampus Musamus belum banyak dikunjungi wisatawan dan pas bagi pelancong yang mendambakan ketenangan.

Pantai Payum belum banyak tersentuh tangan manusia dan nampak alami dengan pantai pasir yang lembut dan air laut yang begitu jernih.

Sementara itu, sekitar 20 km ke tenggara, Pantai Onggaya memiliki keunikan tersendiri dengan pasirnya yang berwarna putih kemerahan dan hamparan kerang beragam ukuran. Pengunjung yang datang ke sana disarankan membawa jaket untuk melindungi tubuh dari dinginnya hembusan angin yang datang dari Australia.

Lihat juga...